Kamis, 01 Mei 2014

JARINGAN PADA AKAR DAN BATANG MONOKOTIL DAN DIKOTIL



LAPORAN PRAKTIKUM
ANATOMI DAN FISIOLOGI TUMBUHAN
“JARINGAN PADA AKAR DAN BATANG DIKOTIL DAN MONOKOTIL

http://dokteranggadominius.files.wordpress.com/2013/02/logo_untan_baru.png
Disusun Oleh:
Nama
Nurul Andarwatingrum
Nim
F05112060
Kelas
Reg.A Kelas.B
Kelompok
3

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN  MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2014


ABSTRAK
Tumbuhan angiosperma di kelompokkan atas  2 tumbuhan dikotil dan monokotil dimana keduanya memiliki perbedaan dan ciri khusus. Pada pengamatan batang dan akar dikotil memiliki banyak perbedaan. Pada batang dikotil berkas pengangkutnya tersusun rapi sedangkan monokotilnya tersebar. Berbeda halnya dengan berkas pembuluh pada akar dikotil maupun monokotil yang sama-sama tersusun rapi dalam endodermis. Tipe berkas pengangkut pada batang monokotil kolateral tertutup sedangkan batang dikotil memiliki tipe kolateral terbuka karena adanya kambium sebagai penghubung berkas pengangkutnya. Dengan sekitar 275.000 spesies yang telah diketahui, sejauh ini angiosperma merupakan kelompok tumbuhan yang paling beraneka ragam dan paling luas. Para ahli membagi angiosperma menjadi dua kelas : monokotil, dinamai demikian karena kotiledonnya (keping atau daun biji) hanya ada satu dan dikotil, yang memiliki dua kotiledon Adapun Zea mays termasuk tumbuhan monokotil dan Arachis hypogea   dan Arthocarpus integra termasuk tumbuhan dikotil, setelah melakukanp engamatan diketahui adanya perbedaan sistem jaringan penyusun pada batang dan akar tumbuhan monokotil dan dikotil. Pada tumbuhan dikotil menggunakan Arachis hypogea dan Helianthus untuk preparat awetannya sedangkan untuk preparat awetan monokotil menggunakan Zea mays. Untuk preparat segar pada tumbuhan dikotil menggunakan Arthocarpus integra sedangkan tumbuhan dikotil menggunakan Zea mays. Berkas pengangkut pada batang monokotil tersebar sedangkan dikotil tersusun rapi. Berbeda dengan berkas pengangkut pada akar monokotil maupun dikotil dimana keduanya sama-sama tersusun secara teratur. Dan tipe pembuluh pada batang monokotil yaitu tipe kolateral tertutup yaitu tidak memiliki kambium sedangkan pada tumbuhan dikotil memiliki kambium yang menghubungkan antara xylem dan floem sehingga tipe berkas pengangkutnya merupakan tipe kolateral terbuka.

Kata kunci: Jaringan, monokotil, dikotil, Arachis hypogea, Helianthus, Arthocarpus integra, Zea mays.


PENDAHULUAN
Dengan sekitar 275.000 spesies yang telah diketahui, sejauh ini angiosperma merupakan kelompok tumbuhan yang paling beraneka ragam dan paling luas. Para ahli membagi angiosperma menjadi dua kelas : monokotil, dinamai demikian karena kotiledonnya (keping atau daun biji) hanya ada satu dan dikotil, yang memiliki dua kotiledon (campbell,2003).
Jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai struktur dan fungsi yang sama. Pada awal perkembangan tumbuhan, semua sel melakukan pembelahan diri. Namun, pada perkembangan lebih lanjut, pembelahan sel hanya terbatas pada jaringan yang bersifat embrionik. Jaringan yang bersifat embrionik adalah jaringan meristem yang selalu membelah diri. Pada korteks batang terjadi pembelahan tetapi pembelahannya sangat terbatas. Sel meristem tumbuh dan mengalami spesialisasi membentuk berbagai macam jaringan (Badar, 2011).
Jaringan menurut fungsinya dibedakan menjadi dua yaitu jaringan muda atau meristem dan jaringan dewasa atau permanen (Kimball, 1992).
Akar merupakan bagian tubuh tumbuhan sebelah bawah, biasanya berkembang dibawah permukaan tanah meskipun adapula akar yang tumbuh di udara (seperti halnya batang ada pula yang tumbuh dibawah permukaan tanah). Susunan dan perkembangan jaringan primer akar dan batang dapat dibedakan dengan jelas misalnya perkembangan epidermisnya. Pada tumbuhan berbiji, xylem akar primer bersifat eksarch dan xilem batang bersifat endarch. Xilem dan floem diakar muda membentuk berkas pengangkut yang tersusun berseling, sedang pada batang membentuk berkas pengangkut yang tersusun secara kolateral, bikolateral, atau konsentris. Pada akar tidak dijumpai bangunan yang serupa daun, cabang-cabangnya terbentuk dari bagian yang telah dewasa (bukan dikuncup sperti pada batang), tidak mempunyai stomata tetapi mempunyai tudung akar yang tidak ada persamaannya pada batang. Berdasarkan asal pembentukannya, ada dua tipe akar yaitu akar primer dan akar adventif. Akar primer terbentuk dari bagian ujung embrio (koleoriza) dan dari perisikel, sedang akar adventif berkembang dari bagian akar yang telah dewasa selain perisikel atau dari bagian tubuh yang lain misalnya dari batang atau daun (Soerodikoesoemo,1993).
Akar monokotil dan dikotil ujungnya dilindungi oleh tudung akar atau kaliptra, yang fungsinya melindungi ujung akar sewaktu menembus tanah, sel-sel kaliptra ada yang mengandung butir-butir amylum, dinamakan kolumela.
Fungsi Akar
a.Untuk menambatkan tubuh tumbuhan pada tanah
b. Dapat berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan
c. Menyerap air dam garam-garam mineral terlarut
 Anatomi Akar
Pada akar muda bila dilakukan potongan melintang akan terlihat bagian-bagian dari luar ke dalam.
a. Epidermis
b. Korteks
c. Endodermis
d. Silinder Pusat/Stele
a)       Epidermis
Susunan sel-selnya rapat dan setebal satu lapis sel, dinding selnya mudah dilewati air. Bulu akar merupakan modifikasi dari sel epidermis akar, bertugas menyerap air dan garam-garam mineral terlarut, bulu akar memperluas permukaan akar.
b)       Korteks
Letaknya langsung di bawah epidermis, sel-selnya tidak tersusun rapat sehingga banyak memiliki ruang antar sel. Sebagian besar dibangun oleh jaringan parenkim.
c)      .Endodermis
Merupakan lapisan pemisah antara korteks dengan silinder pusat. Sel-sel endodermis dapat mengalami penebalan zat gabus pada dindingnya dan membentuk seperti titik-titik, dinamakan titik Caspary. Pada pertumbuhan selanjutnya penebalan zat gabus sampai pada dinding sel yang menghadap silinder pusat, bila diamati di bawah mikroskop akan tampak seperti hutuf U, disebut sel U, sehingga air tak dapat menuju ke silinder pusat. Tetapi tidak semua sel-sel endodermis mengalami penebalan, sehingga memungkinkan air dapat masuk ke silinder pusat. Sel-sel tersebut dinamakan sel penerus/sel peresap.
d)     Silinder Pusat/Stele
Silinder pusat/stele merupakan bagian terdalam dari akar.
Terdiri dari berbagai macam jaringan :
- Persikel/Perikambium
Merupakan lapisan terluar dari stele. Akar cabang terbentuk dari pertumbuhan persikel ke arah luar.
- Berkas Pembuluh Angkut/Vasis
Terdiri atas xilem dan floem yang tersusun bergantian menurut arah jari jari. Pada dikotil di antara xilem dan floem terdapat jaringan kambium.
- Empulur
Letaknya paling dalam atau di antara berkas pembuluh angkut terdiri dari jaringan parenkim (Angga, 2009).
Jaringan dewasa merupakan kelompok sel tumbuhan yang berasal dari pembelahan sel - sel meristem dan telah mengalami pengubahan bentuk yang disesuaikan dengan fungsinya (Diferensiasi). Jaringan dewasa ada yang sudah tidak bersifat meristematik lagi (sel penyusunnya sudah tidak membelah lagi) sehingga disebut jaringan permanen. Berdasarkan bentuk dan fungsinya, jaringan dewasa pada tumbuhan dibedakan menjadi empat macam jaringan yaitu: jaringan epiderm, jaringan dasar (parenkim), jaringan penyokong, dan jaringan pengangkut (Steven.2008).

Fungsi batang antara lain sebagai berikut :
a. Mendukung tubuh tumbuhan.
b. Sebagai alat transportasi air, mineral, dan bahan-bahan makanan.
c. Merupakan tempat tumbuhnya cabang, daun, dan bunga.

Struktur batang lebih kompleks dibandingkan dengan akar. Batang ada yang tumbuh di atas tanah dan di bawah tanah. Batang yang tumbuh di dalam tanah berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan, misalnya pada tanaman jahe. Batang tumbuhan tersusun dari tiga sistem jaringan, yaitu:
a. epidermis
b. korteks
c. Endodermis
(Badar, 2011).
Plant tissue analysis has been used to reveal the deficiency, adequacy or excessiveness status of various nutrient elements in a soil-plant system. Unfortunately, a serious limitation to its utility is the dynamic nature of nutrient concentration in plants in relation to their availability in the soil, either in the native state or through their addition to the soil in fertilizer form. Nevertheless, the important part that analyses of soil and plants play in decision-making regarding fertilizer type and rates of application cannot be ignored.
Samples for plant tissue analysis were taken from each of the plots, dissected into grains, cobs and stover; and oven-dried at 70oC to constant weight before grinding with a Wiley mill to pass through a 0.5mm sieve. The samples were chemically analysed to determine their contents of nitrogen, phosphorus, potassium, calcium, magnesium and sodium. Concentrations of all nutrients were expressed on a dry weight basis and the nutrient uptake and accumulation were calculated using the respective plant dry weights (Ogunlela, 2008).
Pada praktikum ini bertujuan untuk dapat mempelajari dan mengetahui system jaringan pada batang dan akar  dikotil dan monokotil. Kemudian juga dapat mempelajari tipe berkas pengangkut pada batang dan akar  dikotil dan monokotil serta dapat mempelajari tipe stele pada batang dan akar dikotil dan monokotil.
Masalah yang ada pada Struktur Anatomi Batang Dikotil adalah Bagaimana sistem jaringan pada batang dikotil? Bagaimana tipe berkas pengangkut pada batang dikotil? Kemudian masalah  pada Struktur Anatomi Batang Monokotil adalah  Bagaimana sistem jaringan pada batang monokotil? Bagaimana sistem berkas pengangkut pada batang monokotil? Dan pada Struktur Anatomi Akar Monokotil dan Dikotil adalah Bagaimana sistem jaringan pada akar tumbuhan? Bagaimana tipe berkas pengangkut pada akar tumbuhan? Kemudian pada Pengamatan preparat segardi dapat masalah  Bagaimana sistem jaringan pada akar tumbuhan? Bagaimana tipe berkas pengangkut pada akar tumbuhan.

METODOLOGI

Pada praktikum Anatomi dan fisoilogi tumbuhan inidi lakukan pada tanggal 13 maret 2014 di laboratorium Biologi FKIP Untan pada pukul 13.00 sampai 15.00 WIB.
Alat dan Bahan pada praktikum ini menggunakan alat antara lain mikroskop, pinset, silet, kaca objek dan kaca penutup. Dan menggunakan bahan yaitu air, preparat awetan batang monokotil (Zea mays), preparat awetan batang dikotil (Arachis hypogea), preparat awetan akar monokotil (Zea mays), dan preparat awetan akar dikotil ( helianthus). Sedangkan tumbuhan yang digunakan sebagai preparat segar batang Cyperus rotundus (monokotil) dan batang Arthocarpus integra (dikotil)
Pada langkah kerja Struktur Anatomi  Batang Dikotil Pada praktikum jaringan akar dan batang dikotil dan monokotil ini praktikan Mula-mula melakukan pemeriksaan terhadap preparat awetan dan preparat segar dengan perbesaran lemah untuk mengamati susunan jaringan yang terdapat pada batang. Kemudikan setelah di lakukan pengamatan dengan perbesaran lemah praktikan melakukan pengamatan awetan dengan memperbesar satu sektor dan irisan tersebut dengan pembesaran kuat.Kemudian setelah di amati praktikan  menggambar  preparat yang di amati  dan beri keterangan. Kemudian setelah di gambar  praktikan juga harus menyebutkan tipe berkas pengangkut dan tipe stele maasing-masing tanaman.
Sedangkan langkah kerja pada Struktur Anatomi Batang Monokotil Pada praktikum jaringan akar dan batang dikotil dan monokotil ini praktikan Mula-mula melakukan pemeriksaan terhadap preparat awetan dan preparat segar dengan perbesaran lemah untuk mengamati susunan jaringan yang terdapat pada batang. Kemudikan setelah di lakukan pengamatan dengan perbesaran lemah praktikan melakukan pengamatan preparat awetan dan segar dengan memperbesar satu sektor dan irisan tersebut dengan pembesaran kuat.Kemudian setelah di amati praktikan  menggambar  preparat yang di amati  dan beri keterangan. Kemudian setelah di gambar  praktikan juga harus member keterangan tipe berkas pengangkut dan tipe stele maasing-masing tanaman.
Dan langkah kerja pada Struktur  Anatomi Akar Monokotil dan Dikotil Pada praktikum jaringan akar dan batang dikotil dan monokotil ini praktikan Mula-mula melakukan pemeriksaan terhadap preparat dengan perbesaran lemah untuk mengamati susunan jaringan terdapat pada akar dikotil dan monokotil. Kemudian setelah dilakukan pengamatan dengan perbesaran lemah praktikan melakukan pengamatan awetan akar berdasarkan satu sektor dari irisan tersebut dengan pembesaran kuat Kumudian  setelah di gambar praktikan juga harus dan harus memberi keterangan dan di sebutkan tipe berkas pengangkut dan tipe stele masing-masing tanaman.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Preparat : Zea mays
Perbesaran : 10 X 25
Preparat : Arachis hypogea

Perbesaran : 10X 25
20140317_150035.jpg
20140317_150144.jpg
Keterangan :
1.      Epidermis
2.      Floem
3.      Xilem
4.      Korteks
5.      Empulur
Keterangan :
1.      Epidermis
2.      Korteks
3.      endodermis

Tipe : pembuluh kolateral tertutup
Tipe : pembuluh kolateral tertutup
Preparat : Zea mays
Perbesaran : 10X 25
Preparat : Helianthus

Perbesaran : 10 X 25
20140317_150155.jpg
20140317_150203.jpg
Keterangan :
1.      Epidermis
2.      Korteks
3.      Endodermis
4.      Xilem
5.      Floem
6.      Empulur
7.      Stele
Keterangan :
1.      Epidermis
2.      Endodermis
3.      Floem
4.      Xilem
5.      Korteks
Tipe : pembuluh kolateral tertutup
Tipe : pembuluh kolateral tertutup
Preparat : Batang Cyperus sp.

Perbesaran : 10 X 25
Preparat : Arthocarpus integra

Perbesaran : 10X 25

20140317_150554.jpg
20140317_150603.jpg

Keterangan :
1.      Epidermis
2.      Endodermis
3.      Floem
4.      Xilem
5.      Empulur
Keterangan :
1.      Epidermis
2.      Korteks
3.      Endodermis
4.      Xilem
5.      Empulur
6.      Floem
7.      Kambium

Tipe : pembuluh kolateral tertutup
Tipe : pembuluh kolateral terbuka



Pada praktikum jaringan pada akar dan batang dikotil dan monokotil ini  bertujuan untuk mengetahui sistem jaringan, tipe berkas pengangkut maupun tipe stele dari tumbuhan dikotil maupun monokotil. Praktikum ini menggunakan preparat awetan akar dan batang Zea mays untuk monokotil dan awetan akar dan batang Arachis hypogea untuk tumbuhan dikotilnya. Sedangkan untuk pengamatan preparat segarnya kelompok kami menggunakan batang Cyperus rotundus untuk perwakilan tumbuhan monokotil sedangkan untuk tumbuhan dikotilnya menggunakan akar Arthocarpus integra dan pada pengamatan akar ini kami menggunakan Zea mays dan helianthus.
Struktur batang lebih kompleks dibandingkan dengan akar. Batang ada yang tumbuh di atas tanah dan di bawah tanah. Batang yang tumbuh di dalam tanah berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan, misalnya pada tanaman jahe. Batang tumbuhan tersusun dari tiga sistem jaringan, yaitu:

a. epidermis
b. korteks
c. Endodermis
(Badar, 2011).
Epidermis adalah sistem sel-sel yang bervariasi struktur dan fungsinya, yang menutupi tubuh tumbuhan. Struktur yang demikian tersebut dapat dihubungkan dengan peranan jaringan tersebut sebagai lapisan yang berhubungan dengan lingkungan luar. Adanya bahan lemak, kutin dan kutikula dapat membatasi penguapan, pada dinding terluar menjadikannnya kompak dan keras, sehingga dapat dianggap sebagai penyokong mekanis (Haryanti, 2010).
Pada pengamatan preparat batang Zea mays dengan perbesaran 10 X25 terlihat adanya epidermis, korteks, dan berkas pengangkut. Begitu pula pada pengamatan preparat batang Arachis hypogea terlihat bagian yang sama pula pada perbesaran yang sama yaitu epidermis, korteks, dan berkas pengangkut.
Pada pengamatan struktur akar monokotil dan dikotil, pengamatan akar monokotil menggunakan preparat Zea mays, berdasarkan pengamatan jaringan pada akarnya memiliki berkas pembuluh xylem yang besar dan teratur, sedangkan xylem yang kecil berada diluarnya dan berselingan dengan floem.meskipun pada pengamatan agak susah membedakan xylem kecil dengan floem.bagian penyusun akar monokotil yang terlihat adalah 1. Epidermis, 2. Korteks, 3. Endodermis, 4. Xylem, 5. Floem. Merupakan tipe ikatan pembuluh bertipe koleteral terbuka.Sedangkan pada akar dikotil tampak xylem dikelilingi oleh floem.bagian penyusun akar dikotil adalah 1. Epidermis, 2. Korteks, 3. Floem, 4. Xylem dan merupakan tipe ikatan pembuluh bertipe koleteral tertutup. tipe ikatan pembuluh pada akar berkebalikan dengan tipe ikatan pembuluh pada batang (Hermanto, 2011).
Hal tersebut kurang sesuai dengan literatur yang diperoleh dimana seharusnya terdapat beberapa bagian penyusun yang berbeda antara sistem jaringan pada monokotil dan dikotil. Kekurangan hasil pengamatan ini dapat terjadi dikarenakan kelalaian praktikan maupun karena keterbatasan media seperti terbatasnya perbesaran pada mikroskop sehingga pengamatan yang diperoleh kurang atau bahkan sangat tidak mendetail.
Dan jika melihat gambar dari hasil pengamatan yang dilakukan pada batang Zea mays terlihat susunan berkas pengangkut yang tersebar. Sedangkan susunan berkas pengangkut yang ada pada batang Arachis hypogea  sudah lebih teratur dan tersusun. Adapun tipe ikatan pembuluh pada batang dikotil yaitu tipe kolateral terbuka, artinya diantara xylem dan floem tedapat kambium yang berfungsi menjadi penghubung keduanya. Sedangkan tipe pembuluh pada batang monokotil yaitu tipe kolateral tertutup karena tidak adanya kambium sistem jaringannya.
Pada pengamatan akar monokotil dengan menggunakan akar dari Zea mays maka dapat dilihat bagian epidermis, xylem, floem, dan korteks. Begitu pula pada pengamatan akar dikotil menggunakan akar Helianthus juga dapat dilihat bagian epidermis, berkas pengangkut, dan korteksnya. Jadi dari  pengamatan tersebut belum dapat dibedakan dengan jelas penyusun sistem jaringan yang membedakan antara dikotil dan monokotil. Hal ini mungkin dikarenakan kelalaian praktikan dalam mengamati preparat yang ada.


KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yang dilakukan diketahui adanya perbedaan sistem jaringan penyusun pada batang dan akar tumbuhan monokotil dan dikotil. Pada tumbuhan dikotil menggunakan Arachis hypogea dan Helianthus untuk preparat awetannya sedangkan untuk preparat awetan monokotil menggunakan Zea mays. Untuk preparat segar pada tumbuhan dikotil menggunakan Arthocarpus integra sedangkan tumbuhan dikotil menggunakan Zea mays. Berkas pengangkut pada batang monokotil tersebar sedangkan dikotil tersusun rapi. Berbeda dengan berkas pengangkut pada akar monokotil maupun dikotil dimana keduanya sama-sama tersusun secara teratur. Dan tipe pembuluh pada batang monokotil yaitu tipe kolateral tertutup yaitu tidak memiliki kambium sedangkan pada tumbuhan dikotil memiliki kambium yang menghubungkan antara xylem dan floem sehingga tipe berkas pengangkutnya merupakan tipe kolateral terbuka.

































DAFTAR PUSTAKA

Angga. 2009. Perbedaan Dikotil dan Monokotil. http://anggachip.blogspot.com. (Diakses 18 Maret 2014).
Badar. 2011. Struktur dan Fungsi Jaringan. http://badartheking.blogspot.com.  (Diakses 18 Maret 2014).
Campbell. 2003. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Hermanto. 2011. Pabrik Biothanol dari Batang Jagung dengan Proses
Fermentasi. Jurnal Tugas Akhir Institut Teknologi Sepuluh Nopember Vol. I: 7-10.
Kimball, J.W. 1998. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Listiana, Desti. 2010.  Struktur Anatomi Organ Tumbuhan. Jurnal Tugas Akhir Universitas Muhammadiyah Metro Vol. 2: 2-9.

Ogunlela, V.B, Ramalan and Falaki. 2008. Mineral Composition of Dry Season Maize (Zea mays L.). World Journal of Agricultural Sciences 4 (6): 775-780.

Soerodikoesoemo, Wibisono.1993.Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan. Jakarta:Penerbit Universitas Terbuka,Depdikbud.
Steven.2008.Jaringan pada Tumbuhan. http://stevenfilan.blog.friendster.com/2008/10/jaringan-pada-tumbuhan/ (diakses, Sabtu 31 Maret 2012).























LAMPIRAN
1.      Apakah perbedaan letak jaringan pada tumbuhan monokotil dan dikotil baik pada akar maupun batang?
JAWAB :  Perbedaan laetak jaringan pada tumbuhan monokotil dan dikotil:
Batang
Dikotil: berkas pembuluh tersusun dalam 1 lingkaran sehingga korteks terdapat di bagian luar lingkaran dan empulur dibagian dalam lingkaran. Xilem tersusun dibagian dalm lingkaran. Diantara floem dan xilem terdapat kambium.
Monokotil : epidermisnya memiliki dinding sel yang tebal, terdapat jaringan skelerenkim yang merupakan kulit batang, ikatan pembuluh menyebar pada seluruh batang, ikatan pembuluh floem berdampingan dengan xylem, tidak twrdapat kambium.
Akar
Dikotil : xilem mengumpul dibagian tengah silinder pusat, tersusun seperti bentuk bintang.
Monokotil : xilem dan floem letaknya berselang-seling.
2.      Bagaimana air masuk ke dalam xilem?
JAWAB : Air masuk ke xylem, melalui jaringan epidermis akar, kemudian bergerak diantara jaringan korteks, kemudian air melewati jaringan endodermis untuk memasuki stele dan akhirnya masuk ke xylem.
3.      Jelaskan bagaimana air masuk ke dalam xilem melalui beberapa jaringan akar!
JAWAB : Air masuk ke jaringan pada rambut akar kemudian masuk ke jaringan korteks yang berlapis-lapis kemudian menuju kejaringan endodermis kemudian menuju kejaringan perisikel dan akhirnya ke berkas pembuluh kayu atau xylem.
4.      Bagaiman hasil pengamatan pada preparat segar dengan slide awetan?
JAWAB : Pada preparat segar dan slide awetannya pada tumbuhan monokotil terlihat letak jaringan pengangkutnya yang tidak teratur dan tersebar serta untuk tumbuhan dikotil terlihat letak jaringan pengangkutan yang teratur dalam lingkaran.