Minggu, 20 April 2014

JARINGAN DAUN MONOKOTIL DAN DIKOTIL

LAPORAN PRAKTIKUM
ANATOMI DAN FISIOLOGI TUMBUHAN
“JARINGAN DAUN MONOKOTIL DAN DIKOTIL
                                                                                          
http://dokteranggadominius.files.wordpress.com/2013/02/logo_untan_baru.png
Disusun Oleh:
Nama
Nurul Andarwatingrum
Nim
F05112060
Kelas
Reg.A Kelas.B
Kelompok
3

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN  MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2014

ABSTRAK
            Terdapat tiga jaringan utama pada daun monokotil maupun dikotil yaitu jaringan epidermis terdiri dari epidermis adaxial dan epidermis abaxial, jaringan mesofil terdiri dari palisade mesofil dan spongy mesofil serta jaringan pembuluh terdiri dari xylem dan floem. Selain itu tiap tipe daun dilengkapi dengan stomata. Walau memiliki sistem jaringan penyusun yang sama akan tetapi posisi dari berbagai jaringan maupun struktur anatomi masing-masing daun tersebut berbeda. Untuk mengetahui letak perbedaan tersebut dilakukanlah pengamatan terhadap struktur anatomi dari preparat awetan daun Zea mays dan daun Ficus sp. serta pengamatan preparat segar daun Eugenia aquea dan daun Caladium sp. Pada hasil pengamatan dapat dilihat bahwa daun yang tergolong kedalam tipe daun monokotil yaitu daun Zea mays dan daun Caladium sp.karena memiliki jaringan pembuluh yang jumlahnya banyak dan tersusun berjajar dengan jarak yang berdekatan selain itu pertulangan daunnya sejajar. Sedangkan daun Ficus sp. dan Eugenia aquea daun  termasuk kedalam tipe daun dikotil karena jumlah  jaringan pembuluhnya lebih sedikit dan jarang serta pertulangan daunnya menyirip.
Kata kunci : Jaringan, daun monokotil, daun dikotil


PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Daun merupakan organ tumbuhan yang memiliki fungsi yang sangat penting, salah satunya adalah sebagai tempat fotosintesis. Dibandingkan dengan organ tumbuhan lainnya, daun memiliki fungsi serta struktur morfologi dan anatomi yang lebih beragam. Oleh sebab itulah para ahli kemudian membagi daun berdasarkan fungsi serta struktur morfologi dan anatomi yang dimilikinya kedalam dua kelompok besar yaitu daun monokotil dan dikotil.
Pada daun monokotil dan dikotil masing-masing memiliki ciri dan jaringan khusus yang menjadi keistimewaan dari masing-masing kelompok tumbuhan tersebut. Dan pada praktikum kali ini khusus untuk melihat perbedaan anatomi dari daun monokotil dan dikotil selain dari ciri morfologi yang sudah lebih sering dibahas. Diharapkan setelah melakukan praktikum ini maka praktikan dapat menentukan letak perbedaan antara daun monokotil dan daun dikotil bukan hanya berdasarkan struktur morfologinya melainkan juga berdasarkan struktur anatominya serta dapat melihat bagaimana perbedaan sistem jaringan yang menyusun daun monokotil dan dikotil tersebut.

B.      Dasar Teori
Dengan sekitar 275.000 spesies yang telah diketahui, sejauh ini angiosperma merupakan kelompok tumbuhan yang paling beraneka ragam dan paling luas. Para ahli membagi angiosperma menjadi dua kelas : monokotil, dinamai demikian karena kotiledonnya (keping atau daun biji) hanya ada satu dan dikotil, yang memiliki dua kotiledon .
Pada tumbuhan dikotil, daun terdiri atas tangkai (petiola) dan helai daun (lamina), sedangkan daun monokotil tidak bertangkai, langsung melekat pada batang. Jaringan penyusun daun meliputi epidermis, mesofil (parenkim), dan berkas pembuluh (Campbell, 2003).
Epidermis terdapat dipermukaan atas dan dipermukaan bawah daun. Umumnya terdiri dari selapis sel, seperti pada daun Ficus dan Piper (sirih). Sel-selnya berdinding tebal dan pada bagian yang menghadap ke luar dilapisi oleh kutikula untuk membatasi penguapan air yang terlalu besar, kadang-kadang pada daun juga dijumpai lapisan lilin atau rambut.  Pada epidermis terdapat stomata (mulut daun), yaitu celah yang dibatasi oleh sel penutup. Lapisan epidermis atas berfungsi melindungi bagian dibawahnya. Stomata berfungsi sebagai tempat keluar masuknya udara dan dengan menghubungkan ruang-ruang antar sel di dalam  jaringan parenkim dengan atmosfer. Pada tumbuhan darat, stomata terletak dipermukaan bawah daun, sedangkan pada tumbuhan air terdapat di atas permukaan daun (Lakitan, 1996) .
Jaringan epidermis atas berbeda dengan epidermis bawah. Permukaan atas daun  disebut permukaan adaksial dan permukaan bawah disebut permukaan abaksial.
Mesofil daun yang terdapat diantara epidermis atas dan bawah dibedakan menjadi dua macam, yaitu parenkim palisade yang terdiri atas sel yang panjang dan tidak mempunyai ruang antarsel dan parenkim spons yang terdiri atas sel yang berbentuk tidak teratur dengan ruang antar sel yang besar. Parenkim palisade lebih banyak mengandung kloroplas.
Bentuk parenkim spons bermacam-macam. Kekhususannya adalah adanya lobus (rongga) yang terdapat antara sel satu dan lainnya. Membedakan antara sel paenkim palisade dengan parenkim spons tidak selalu mudah, khususnya apabila parenkim palisade terdiri atas beberapa lapisan. Apabila palisade terdiri atas beberapa lapisan, biasanya lapisan paling dalam sangat mirip dengan parenkim spons yang ada di dekatnya (Mulyani, 2006).
Pada tumbuhan monokotil tidak terdapat jaringan parenkim palisade, hanya terdapat jaringan spons saja. Proses fotosintesis terjadi di semua sel penyusun jaringan spons yang berbentuk membulat. Pada jaringan ini terdapat ruang antar sel sama halnya dengan tumbuhan dikotil, jaringan spons pada tumbuhan monokotil di dalamnya terdapat pembuluh pengangkut. Ciri khas jaringan spons yaitu adanya lekukan-lekukan yang menjadi penghubung antar sel (Syarif, 2009).
Persiapan stomata dengan metode replikasi. Parameter yang jumlah dan distribusi daun stomata, lebih jauh lagi klasifikasi data dalam catagorizing beberapa tidak terbatas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa jumlah kategori stomata adalah mencapai 24%, cukup 20%, jauh 19%, 14% dan verymuch 23% tidak membatasi kategori. Penyebaran distribusi stomata yang mencapai 68% (melati air axcept) dan stomata paralel mencapai 32%  (Haryanti,2010).
Jaringan pengangkutan pada daun membentuk suatu system pencabangan seperti jala yang kompleks, disebut tulang daun. Tulang daun terletak diantara jaringan tiang dan jaringan bunga karang. Pada sayatan melintang tulang daun merupakan berkas pengangkut yang tersusun dari xylem dan floem (Starscientist,2009).
Jaringan pembuluh suatu daun sambung menyambung dengan xilem dan floem batang. Jejak daun, yang bercabang dari berkas vaskuler dalam batang, menembus melalui tangkai daun ke daun. Didalam daun, tulang daun akan membagi diri secara berulang-ulang dan bercabang diseluruh mesofil. Ini menyebabkan xilem dan floem berhubungan sangat dekat dengan jaringan fotosintetik, yang dapat menyebabkan air dan mineral dari xilem dan mengisi gula dan produk organik lainnya kedalam floem untuk dikirim kebagian lain tumbuhan. Infrastruktur pembuluh juga berfungsi sebagai kerangka yang memperkuat bentuk daun tersebut (Campbell, 2003).
Pada kebanyakan daun dikotil, parenkim berkas pengangkut memperluas ke epidermis pada satu atau kedua sisi daun. Sel parenkim yang mencapai epidermis ini disebut perluasan berkas pengangkut, yang berfungsi dalam pengangkutan pada daun. Pada beberapa tumbuhan, perluasan berkas pengangkut mengiringi tulang daun hampir disepanjang daun, sedangkan pada tumbuhan yang lain tidak terdapat perluasan berkas pengangkut.
Berkas pengangkut juga terdapat dalam daun monokotil, khususnya rumput-rumputan yang dibedakan menjadi dua tipe, yaitu yang mempunyai 1 (satu) atau 2 (dua) lapisan. Lapisan berkas pengangkut di bagian luar terdiri atas sel parenkim dengan dinding tipis. Sel selubung berisi kloroplas sehingga mengandung tepung yang disebut selubung tepung (Mulyani, 2006).
Tumbuhan dikotil dan monokotil masing-masing memiliki perbedaan yang dapat dilihat dari perbedaan daun dan juga batang tumbuhan tersebut. Perbedaan daun dikotil dan monokotil dapat dibedakan menjadi perbedaan secara anatomi serta struktur morfologi, nah disini akan kita bahas tentang ketidaksamaan berdasarkan morfologinya. Pada setiap jenis tumbuhan memiliki struktur mofologi daun yang tidak sama, oleh karena itu perbedaan tersebut dapat digunakan sebagai klasifikasi pada setiap jenis tumbuhan. Mari kita lihat selengkapnya pada uraian berikut:
Bentuk tulang daun pada tumbuhan dikotil adalah menyirip, ssebagai contoh dapat dilihat pada tanaman mangga, jambu, rambutan, dan sebagainya. Yang kedua, tulang daun yang menjari pada tumbuhan dikotil, contohnya dapat dilihat pada tanaman pepaya, kapas, dan ketela pohon.
Pada tumbuhan monokotil, tulang daun berbentuk melengkung. Pada jenis tumbuhan ini bentuk tulang daunnya membentuk garis lengkung, misalnya pada tumbuhan genjer dan sirih.Tulang daun yang sejajar pada tumbuhan monokotil, tulang daun membentuk garis-garis sejajar yang menyatu pada ujungnya. Contoh pada tanaman padi dan tebu.
Tanaman berbunga dengan biji tertutup dalam ovarium atau buah kemajuan evolusi terbaru dan terbesar dalam kerajaan tumbuhan. Tanaman ini disebut angiosperma dan telah ada selama sekitar 125 juta tahun. Mereka mendominasi flora tanaman yang lebih tinggi di bumi saat ini. Angiosperma dibagi menjadi dua kelompok, monokotil dan dikotil, berdasarkan struktur tanaman. Monokotil adalah bentuk singkat dari monokotil berarti satu daun biji. Ini adalah referensi ke daun tunggal yang muncul saat monokotil berkecambah. Monokotil adalah lebih kecil dari dua kelompok, memiliki sekitar 60.000 spesies. Ini termasuk rumput, bunga lili, iris, anggrek, palem, aroids, sedges dan banyak gulma kolam. Struktur monokotil memiliki kesamaan termasuk vena paralel, ikatan pembuluh tersebar, tidak adanya kayu pertumbuhan sekunder dan bagian bunga dalam kelipatan tiga. Para dikotil terdiri sekitar 190.000 spesies yang mencakup hampir semua akrab pohon non-konifera dan semak-semak dan hampir semua bumbu tahunan termasuk rumput. Dikotil juga merupakan bentuk singkat berasal dari dicotyledon kata mengacu pada daun dua benih hadir setelah perkecambahan. Vena dikotil biasanya netlike, ada cincin vaskular tunggal terus menerus, woody pertumbuhan sekunder hadir di pohon dan semak-semak dan bagian bunga terjadi dalam kelipatan 4s atau 5s.  ( Perry, 1991 ) .
Di hutan hujan tropis dataran rendah (TLRF) daun monokotil berbeda dari dikotil (eudicots dan magnoliids) dalam dua cara yang mungkin untuk mengurangi kerugian herbivora. Pada umumnya mereka lebih keras, dan mayoritas dari mereka memiliki daun erat dilipat atau digulung sampai tahap akhir pembangunan. Dominy et al. (2008) ditemukan dalam studi daun dewasa tersebar di tiga wilayah hutan hujan yang ketangguhan (baik kekuatan pukulan atau ketangguhan retak) lebih besar pada monokotil. Para penulis yang sama menunjukkan untuk hutan hujan Australia bahwa perbedaan dalam kekuatan pukulan antara monokotil dan dikotil relatif lebih besar untuk daun dewasa (dengan sekitar 30% lahan menghasilkan rata-rata) dibandingkan daun sepenuhnya diperluas dan sepenuhnya tangguh. Studi kritis pada ketangguhan patah daun dikotil telah menunjukkan bahwa determinan utama umumnya tingkat perkembangan serat sekitar ikatan pembuluh (Lucas et al., 1995, 2000), meskipun jaringan lain mungkin penting pada sebagian kecil spesies ( Baca et al., 2000).
Di antara monokotil di TLRF besar ketangguhan adalah karakteristik tidak hanya tanaman berdaun kaku, seperti banyak telapak tangan, tetapi juga monokotil dengan daun yang kaya air yang siap menggulung bawah kondisi pengeringan, seperti banyak jahe. Untuk dikotil di TLRF studi klasik Coley (1983) menemukan bahwa ketangguhan yang lebih besar (kekuatan pukulan) berkorelasi sangat negatif dengan tingkat kehilangan luas daun, dan beberapa penulis kemudian telah menemukan korelasi yang sama, meskipun beberapa yang lain tidak menemukan korelasi ( ditinjau oleh Dominy et al., 2008). Meskipun temuan negatif beberapa penulis baru-baru ini, kita berhipotesis bahwa di TLRF monokotil akan ditemukan menderita, rata-rata, kerugian kurang luas luas daun dibandingkan dikotil. ( Peter, 2008 ) .
Daun tumbuhan tersusun atas epidermis yang berkutikula dan terdapat stomata atau trikoma. Sistem jaringan dasar pada daun monokotil dan dikotil dapat dibedakan. Pada tumbuhan dikotil sistem jaringan dasar (mesofil) dapat dibedakan atas jaringan pagar dan bunga karang, tidak demikian halnya pada monokotil khususnya famili Graminae. Sistem berkas pembuluh terdiri atas xilem dan floem yang terdapat pada tulang daun (Zaenal, arif. 2011 )
Tujuan
Tujuan praktikum Jaringan pada Daun Monokotil dan Dikotil yaitu mempelajari sistem dan jenis-jenis jaringan daun, kemudian mempelajari tipe daun monokotil dan dikotil, serta posisi dari berbagai jaringan daun. Selain itu juga membandingkan struktur anatomi daun monokotil dan dikotil.
METODOLOGI
1.      Waktu dan Tempat

Pada praktikum Anatomi dan fisoilogi tumbuhan ini dengan acara jaringan pada daun monokotil dan dikotil yang di lakukan pada tanggal 20 maret 2014 di laboratorium Biologi FKIP Untan pada pukul 13.00 sampai 15.00 WIB.

2.      Alat dan Bahan

Alat dan Bahan pada praktikum ini menggunakan alat antara lain mikroskop, pinset, silet, pipet tetes, kaca objek dan kaca penutup. Sementara bahannya menggunakan  air, preparat awetan daun monokotil (Zea mays) dan preparat awetan daun dikotil (Ficus sp.). Preparat segar menggunakan daun Caladium sp. untuk tumbuhan monokotil dan daun  Eugenia aquea untuk tumbuhan dikotil.

3.      Cara Kerja
a.      Preparat awetan
Mula-mula memeriksa dengan pembesaran lemah untuk mengamati susunan jaringan yang terdapat pada daun. Kemudian membesarkan satu sektor dari irisan tersebut dengan pembesaran kuat. Setelah itu menggambar hasil pengamatan dan memberi keterangan pada gambar tersebut. Selanjutnya menuliskan tipe dari masing-masing daun beserta ciri-cirinya.
b.      Preparat segar
Perwakilan kelompok mencari tanaman monokotil dan dikotil yang ada disekitar kampus. Kemudian mengambil bagian daun tanaman tersebut dan selanjutnya menyayat tipis daun segar tersebut dengan menggunakan silet. Kemudian mengamati preparat daun segar tersebut dibawah mikroskop untuk melihat struktur anatominya seperti pada preparat awetan. Lalu menggambar hasil pengamatan tersebut dengan pembesaran yang ada serta memberi keterangan pada bagian-bagiannya.



1.      HASIL PENGAMATAN

GAMBAR JARINGAN DAUN MONOKOTIL DAN DIKOTIL
DAUN MONOKOTIL
DAUN DIKOTIL
Preparat : Segar Caladium sp.
Besaran  : 10 X 10
Preparat : Segar Eugenia aquea
Besaran  : 10 X 10
daun dikotil monokotil3.jpg
daun dikotil monokotil4.jpg
Keterangan :
1.      Epidermis adaxial
2.      Epidermis abaxial
3.      Jaringan palisade
4.      Xilem
5.      Floem
6.      Mesofil
7.      Jaringan spons
Keterangan :
1.      Jaringan palisade
2.      Epidermis adaxial
3.      Epidermis abaxial
4.      Jaringan spons
5.      mesofil
6.      Xilem
7.      Floem
Preparat : Awetan Zea mays
Besaran  : 10 X 10
Preparat : Awetan Ficus sp.
Besaran  : 10 X 10
daun dikotil monokotil.jpg
daun dikotil monokotil2.jpg
Keterangan :
1.      Epidermis adaxial
2.      Jaringan mesofil
3.      Jaringan spongy
4.      Floem
5.      Xilem
Keterangan :
1.      Epidermis adaxial
2.      Epidermis abaxial
3.      Jaringan spons
4.      Jaringan palisade
5.      Xilem
6.      Floem


2.      PEMBAHASAN
Dalam praktikum mengenai jaringan pada daun monokotil dan dikotil, yang bertujuan untuk mempelajari sistem dan jenis-jenis jaringan daun monokotil dan dikotil, mempelajari tipe daun monokotil dan dikotil, mempelajari posisi dari berbagai jaringan daun monokotil dan dikotil, serta membandingkan struktur anatomi daun monokotil dan dikotil. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan mikroskop.
Preparat yang telah disediakan yaitu preparat awetan daun monokotil Zea mays (jagung) , preparat daun awetan dikotil Ficus sp. dan preparat segar daun monokotil Caladium sp. (keladi ) dan pada  preparat segar daun dikotil yaitu Eugenia aquea ( jambu air ). Hasil pengamatan yang dilakukan yaitu pada preparat awetan Zea mays terdapat Epidermis adaxial, Jaringan mesofil, Jaringan spongy, Floem dan Xilem. Kemudian pada preparat awetan Ficus sp.terdapat  Epidermis adaxial, Epidermis abaxial, Jaringan spons, Jaringan palisade, Xilem dan Floem. Sedangkan pada preparat segar Caladium sp. Terdapat Epidermis adaxial, Epidermis abaxial, Jaringan palisade, Xilem, Floem, Mesofil dan Jaringan spons. Dan sedangkan pada preparat Segar Eugenia aquea Jaringan palisade, Epidermis adaxial, Epidermis abaxial, Jaringan spons, mesofil, Xilem dan Floem.
Dari praktikum ini praktikan menggunakan perbesaran 10 X 10 dan dari pengamatan itu  terlihat adanya perbedaan antara tumbuhan dikotil dan monokotil tidak hanya terletak pada perbedaan struktur anatomi akar dan batangnya, tetapi juga terletak pada susunan anatomi daunnya.
Menurut (Fried,  2005 ) bahwa perbedaan yang signifikan antara daun monokotil dan dikotil adalah dalam hal distribusi urat daun atau vena (berkas fibrovaskular).
Perbandingan antara daun dikotil dengan daun monokotil yaitu :
1.    Pada daun dikotil
Daun ditutupi kedua permukaannya masing-masing oleh selapis epidermis. Dinding luar epidermis biasanya tebal dan dilapisi substansi berlilin yang disebut kutin. Permukaan luar epidermis seringkali dilapisi kutikula yang tebal ataupun tipis. Lapisan kutikula ini dibentuk dari kutin. Adanya lapisan kutikula menyebabkan air tidak dapat melewati epidermis dan transpirasi bisa berkurang, hanya sejumlah kecil air yang menguap melalui transpirasi. Epidermis juga mencegah masuknya patogen ke bagian dalam daun. Fungsi lain epidermis adalah melindungi jaringan internal yang lunak dari kerusakan mekanis. Stomata paling banyak ditemukan pada permukaan bawah daun dorsiventral. Stomata sedikit/jarang pada permukaan atas dan bahkan tidak ada sama sekali.
Pada daun yang terapung, stomata terdapat pada permukaan atas. Pada daun yang tenggelam, tidak ada stoma. Masing-masing stoma dikelilingi dua sel penutup. Sel-sel penutup merupakan sel hidup dan mengandung kloroplas. Sel penutup ini yang mengatur membuka menutupnya stoma. Letak stomata tersebar pada permukaan daun.
Jaringan daun di antara epidermis atas dan epidermis bawah terdiri atas jaringan parenkim berdinding tipis disebut jaringan mesofil. Jaringan mesofil memiliki porsi terbesar jaringan internal daun. Pada umumnya sel-sel mesofil terdiri atas dua tipe, jaringan palisade dan jaringan spongy. Jaringan mesofil selalu mengandung kloroplas. Jaringan palisade biasanya terdiri dari parenkim yang silindris dan panjang serta posisinya tegak lurus dengan permukaan epidermis.
Pada penampang melintang, sel selnya nampak padat, dan dipisahkan satu sama lain oleh ruang antar sel di antaranya. Jaringan palisade bisa selapis atau lebih. Daun yang menerima sinar matahari secara langsung jaringan palisade lebih rapat daripada yang teduh.
Jaringan spongy tersusun longgar, tidak beraturan dengan ruang antar sel yang besar di antara sel-selnya. Pada jaringan ini juga terdapat kloroplas, akan tetapi tidak sebanyak pada jaringan palisade. Banyaknya rongga udara lebih memungkinkan untuk pertukaran gas antara sel-sel spongy dengan udara luar.
Fungsi ibu tulang daun dan vena lateral untuk menguatkan daun. Jaringan yang berfungsi menguatkan pada daun adalah kolenkim, sklerenkim dan xilem. Pada bagian tengah ibu tulang daun, di bawah epidermis biasanya terdapat sel-sel berdinding tebal yang berfungsi untuk menguatkan daun yaitu jaringan kolenkim. Sklerenkim juga menguatkan daun. Biasanya sklerenkim merupakan suatu berkas bersebelahan dengan floem. Selain berfungsi untuk mengangkut air, trakea dan trakeid dengan ketebalan dindingnya juga berperan dalam menguatkan daun.
2.    Pada Daun Monokotil
Daun monokotil pada umumnya orientasinya tegak sehingga kedua permukaannya mendapat sinar matahari. Struktur internal hampir sama pada kedua permukaan daun. Stomata terdapat pada kedua sisi. Jaringan mesofil tidak mengalami diferensiasi menjadi jaringan tiang dan jaringan spongy, tetapi terdiri atas sel-sel parenkim dengan kloroplas dan ruang antar sel di antaranya.
Jadi, menurut ( Campbell, 2003 ) yaitu daun tumbuhan monokotil dan dikotil berbeda dalam susunan tulang daun utamanya. Sebagian besar monokotil memiliki tulang daun utama parallel (sejajar) yang menjalar sepanjang helai daun. Sebaliknya daun tumbuhan dikotil umumnya memiliki banyak percabangan pada tulang daun utama.










KESIMPULAN

Daun merupakan organ yang pertumbuhannya terbatas dan pada umumnya simetris dorsiventral. Pipihnya daun berkaitan dengan fungsinya dalam fotosintesis, karena dengan bentuk daun demikian maka luas daun yang terekspose sinar matahari bisa lebih luas.
Sebagian monokotil mempunyai susunan daun unifasial. Kebanyakan tumbuhan dikotil herba, mesofilnya relative tidak terdiferensiasi. Misalnya jaringan tiang tidak ada, atau kurang berkembang, ruang interseluler besar, daun tipis, epidermis dengan kutikula tipis, dan stomata menonjol. Pada tumbuhan dikotil, dibawah epidermis terdapat sel-sel parenkim. Sel-sel parenkim tersebut membentuk jaringan parenkim palisade dan jaringam spons. Pada tumbuhan monokotil tidak terdapat jaringan parenkim palisade, hanya terdapat jaringan spons saja.
Daun tumbuhan monokotil dan dikotil berbeda dalam susunan tulang daun utamanya. Sebagian besar monokotil memiliki tulang daun utama parallel (sejajar) yang menjalar sepanjang helai daun. Sebaliknya daun tumbuhan dikotil umumnya memiliki banyak percabangan pada tulang daun utama.
















DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil A. 2003. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Haryanti, 2010. Jurnal Universitas D.I.Ponegoro. http://ejournal. undip.ac.id/index.php/janafis/article/view/2600.( Diakses 25 Maret 2014).
Lakitan, B. 1996. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Jakarta : Rajawali Pers.
Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.
Starscientist. 2009. Struktur dan Fungsi Tubuh Tumbuhan. http://starscientist.wordpress.com.  (Diakses  25 Maret  2014).
 Perry. 1991. Monocots And Dicots. Journal of Arboriculture  4 (6): 775-780.
Peter. 2008. Monocot Leaves are Eaten Less than Dicot Leaves in Tropical Lowland Rain Forests: Correlations with Toughness and Leaf Presentation. Ann Bot. 2008 June; 101(9): 1379–1389.
Syarif. 2009. Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan. Bandung : Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan.
Syarfudin, Boska. 2013.  Perbedaan daun tumbuhan dikotil dan monokotil. http://bozzkaf.blogspot.com/2013/05/perbedaan-daun-tumbuhan-dikotil-dan.html#ixzz2x5ijQQ94 ( Diakses 25 Maret 2014)