LAPORAN PRAKTIKUM
ANATOMI DAN FISIOLOGI
TUMBUHAN
“JARINGAN PADA AKAR DAN BATANG DIKOTIL DAN MONOKOTIL”

Disusun Oleh:
|
Nama
|
Nurul Andarwatingrum
|
|
Nim
|
F05112060
|
|
Kelas
|
Reg.A Kelas.B
|
|
Kelompok
|
3
|
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2014
ABSTRAK
Tumbuhan angiosperma di
kelompokkan
atas 2 tumbuhan
dikotil dan monokotil dimana keduanya memiliki perbedaan dan ciri khusus. Pada
pengamatan batang dan akar dikotil memiliki banyak perbedaan. Pada batang
dikotil berkas pengangkutnya tersusun rapi sedangkan monokotilnya tersebar.
Berbeda halnya dengan berkas pembuluh pada akar dikotil maupun monokotil yang
sama-sama tersusun rapi dalam endodermis. Tipe berkas pengangkut pada batang
monokotil kolateral tertutup sedangkan batang dikotil memiliki tipe kolateral
terbuka karena adanya kambium sebagai penghubung berkas pengangkutnya. Dengan
sekitar 275.000 spesies yang telah diketahui, sejauh ini angiosperma merupakan
kelompok tumbuhan yang paling beraneka ragam dan paling luas. Para ahli membagi
angiosperma menjadi dua kelas : monokotil, dinamai demikian karena kotiledonnya
(keping atau daun biji) hanya ada satu dan dikotil, yang memiliki dua kotiledon
Adapun
Zea mays termasuk tumbuhan monokotil
dan Arachis hypogea dan Arthocarpus
integra termasuk tumbuhan dikotil, setelah melakukanp
engamatan diketahui adanya perbedaan sistem
jaringan penyusun pada batang dan akar tumbuhan monokotil dan dikotil. Pada
tumbuhan dikotil menggunakan Arachis
hypogea dan Helianthus untuk preparat awetannya sedangkan untuk preparat awetan
monokotil menggunakan Zea mays. Untuk
preparat segar pada tumbuhan dikotil menggunakan Arthocarpus integra sedangkan tumbuhan dikotil menggunakan Zea mays. Berkas pengangkut pada batang
monokotil tersebar sedangkan dikotil tersusun rapi. Berbeda dengan berkas
pengangkut pada akar monokotil maupun dikotil dimana keduanya sama-sama
tersusun secara teratur. Dan tipe pembuluh pada batang monokotil yaitu tipe
kolateral tertutup yaitu tidak memiliki kambium sedangkan pada tumbuhan dikotil
memiliki kambium yang menghubungkan antara xylem dan floem sehingga tipe berkas
pengangkutnya merupakan tipe kolateral terbuka.
Kata kunci: Jaringan, monokotil, dikotil, Arachis hypogea, Helianthus, Arthocarpus integra, Zea mays.
PENDAHULUAN
Dengan sekitar 275.000 spesies
yang telah diketahui, sejauh ini angiosperma merupakan kelompok tumbuhan yang
paling beraneka ragam dan paling luas. Para ahli membagi angiosperma menjadi
dua kelas : monokotil, dinamai demikian karena kotiledonnya (keping atau daun
biji) hanya ada satu dan dikotil, yang memiliki dua kotiledon (campbell,2003).
Jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai
struktur dan fungsi yang sama. Pada awal perkembangan tumbuhan, semua sel
melakukan pembelahan diri. Namun, pada perkembangan lebih lanjut, pembelahan
sel hanya terbatas pada jaringan yang bersifat embrionik. Jaringan yang
bersifat embrionik adalah jaringan meristem yang selalu membelah diri. Pada
korteks batang terjadi pembelahan tetapi pembelahannya sangat terbatas. Sel meristem
tumbuh dan mengalami spesialisasi membentuk berbagai macam jaringan (Badar,
2011).
Jaringan menurut fungsinya dibedakan menjadi
dua yaitu jaringan muda atau meristem dan jaringan dewasa atau permanen
(Kimball, 1992).
Akar merupakan bagian tubuh tumbuhan sebelah
bawah, biasanya berkembang dibawah permukaan tanah meskipun adapula akar yang
tumbuh di udara (seperti halnya batang ada pula yang tumbuh dibawah permukaan
tanah). Susunan dan perkembangan jaringan primer akar dan batang dapat
dibedakan dengan jelas misalnya perkembangan epidermisnya. Pada tumbuhan
berbiji, xylem akar primer bersifat eksarch dan xilem batang bersifat endarch.
Xilem dan floem diakar muda membentuk berkas pengangkut yang tersusun
berseling, sedang pada batang membentuk berkas pengangkut yang tersusun secara
kolateral, bikolateral, atau konsentris. Pada akar tidak dijumpai bangunan yang
serupa daun, cabang-cabangnya terbentuk dari bagian yang telah dewasa (bukan
dikuncup sperti pada batang), tidak mempunyai stomata tetapi mempunyai tudung
akar yang tidak ada persamaannya pada batang. Berdasarkan asal pembentukannya,
ada dua tipe akar yaitu akar primer dan akar adventif. Akar primer terbentuk
dari bagian ujung embrio (koleoriza) dan dari perisikel, sedang akar adventif
berkembang dari bagian akar yang telah dewasa selain perisikel atau dari bagian
tubuh yang lain misalnya dari batang atau daun (Soerodikoesoemo,1993).
Akar monokotil dan dikotil ujungnya dilindungi oleh
tudung akar atau kaliptra, yang fungsinya melindungi ujung akar sewaktu
menembus tanah, sel-sel kaliptra ada yang mengandung butir-butir amylum,
dinamakan kolumela.
Fungsi Akar
a.Untuk menambatkan tubuh tumbuhan pada tanah
b. Dapat berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan
c. Menyerap air dam garam-garam mineral terlarut
a.Untuk menambatkan tubuh tumbuhan pada tanah
b. Dapat berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan
c. Menyerap air dam garam-garam mineral terlarut
Anatomi Akar
Pada
akar muda bila dilakukan potongan melintang akan terlihat bagian-bagian dari
luar ke dalam.
a. Epidermis
b. Korteks
c. Endodermis
d. Silinder Pusat/Stele
a. Epidermis
b. Korteks
c. Endodermis
d. Silinder Pusat/Stele
a) Epidermis
Susunan sel-selnya rapat dan setebal satu lapis sel, dinding selnya mudah dilewati air. Bulu akar merupakan modifikasi dari sel epidermis akar, bertugas menyerap air dan garam-garam mineral terlarut, bulu akar memperluas permukaan akar.
Susunan sel-selnya rapat dan setebal satu lapis sel, dinding selnya mudah dilewati air. Bulu akar merupakan modifikasi dari sel epidermis akar, bertugas menyerap air dan garam-garam mineral terlarut, bulu akar memperluas permukaan akar.
b) Korteks
Letaknya langsung di bawah epidermis, sel-selnya tidak tersusun rapat sehingga banyak memiliki ruang antar sel. Sebagian besar dibangun oleh jaringan parenkim.
Letaknya langsung di bawah epidermis, sel-selnya tidak tersusun rapat sehingga banyak memiliki ruang antar sel. Sebagian besar dibangun oleh jaringan parenkim.
c) .Endodermis
Merupakan lapisan pemisah antara korteks dengan silinder pusat. Sel-sel endodermis dapat mengalami penebalan zat gabus pada dindingnya dan membentuk seperti titik-titik, dinamakan titik Caspary. Pada pertumbuhan selanjutnya penebalan zat gabus sampai pada dinding sel yang menghadap silinder pusat, bila diamati di bawah mikroskop akan tampak seperti hutuf U, disebut sel U, sehingga air tak dapat menuju ke silinder pusat. Tetapi tidak semua sel-sel endodermis mengalami penebalan, sehingga memungkinkan air dapat masuk ke silinder pusat. Sel-sel tersebut dinamakan sel penerus/sel peresap.
Merupakan lapisan pemisah antara korteks dengan silinder pusat. Sel-sel endodermis dapat mengalami penebalan zat gabus pada dindingnya dan membentuk seperti titik-titik, dinamakan titik Caspary. Pada pertumbuhan selanjutnya penebalan zat gabus sampai pada dinding sel yang menghadap silinder pusat, bila diamati di bawah mikroskop akan tampak seperti hutuf U, disebut sel U, sehingga air tak dapat menuju ke silinder pusat. Tetapi tidak semua sel-sel endodermis mengalami penebalan, sehingga memungkinkan air dapat masuk ke silinder pusat. Sel-sel tersebut dinamakan sel penerus/sel peresap.
d)
Silinder Pusat/Stele
Silinder pusat/stele merupakan bagian terdalam dari akar.
Terdiri dari berbagai macam jaringan :
- Persikel/Perikambium
Merupakan lapisan terluar dari stele. Akar cabang terbentuk dari pertumbuhan persikel ke arah luar.
- Berkas Pembuluh Angkut/Vasis
Terdiri atas xilem dan floem yang tersusun bergantian menurut arah jari jari. Pada dikotil di antara xilem dan floem terdapat jaringan kambium.
- Empulur
Letaknya paling dalam atau di antara berkas pembuluh angkut terdiri dari jaringan parenkim (Angga, 2009).
Silinder pusat/stele merupakan bagian terdalam dari akar.
Terdiri dari berbagai macam jaringan :
- Persikel/Perikambium
Merupakan lapisan terluar dari stele. Akar cabang terbentuk dari pertumbuhan persikel ke arah luar.
- Berkas Pembuluh Angkut/Vasis
Terdiri atas xilem dan floem yang tersusun bergantian menurut arah jari jari. Pada dikotil di antara xilem dan floem terdapat jaringan kambium.
- Empulur
Letaknya paling dalam atau di antara berkas pembuluh angkut terdiri dari jaringan parenkim (Angga, 2009).
Jaringan dewasa merupakan
kelompok sel tumbuhan yang berasal dari pembelahan sel - sel meristem dan telah
mengalami pengubahan bentuk yang disesuaikan dengan fungsinya (Diferensiasi).
Jaringan dewasa ada yang sudah tidak bersifat meristematik lagi (sel
penyusunnya sudah tidak membelah lagi) sehingga disebut jaringan permanen.
Berdasarkan bentuk dan fungsinya, jaringan dewasa pada tumbuhan dibedakan
menjadi empat macam jaringan yaitu: jaringan epiderm, jaringan dasar
(parenkim), jaringan penyokong, dan jaringan pengangkut (Steven.2008).
Fungsi batang antara lain sebagai berikut :
a. Mendukung tubuh tumbuhan.
b. Sebagai alat transportasi air, mineral, dan bahan-bahan makanan.
c. Merupakan tempat tumbuhnya cabang, daun, dan bunga.
Struktur batang lebih kompleks dibandingkan dengan akar. Batang ada yang tumbuh di atas tanah dan di bawah tanah. Batang yang tumbuh di dalam tanah berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan, misalnya pada tanaman jahe. Batang tumbuhan tersusun dari tiga sistem jaringan, yaitu:
a. epidermis
b. korteks
c. Endodermis (Badar, 2011).
a. Mendukung tubuh tumbuhan.
b. Sebagai alat transportasi air, mineral, dan bahan-bahan makanan.
c. Merupakan tempat tumbuhnya cabang, daun, dan bunga.
Struktur batang lebih kompleks dibandingkan dengan akar. Batang ada yang tumbuh di atas tanah dan di bawah tanah. Batang yang tumbuh di dalam tanah berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan, misalnya pada tanaman jahe. Batang tumbuhan tersusun dari tiga sistem jaringan, yaitu:
a. epidermis
b. korteks
c. Endodermis (Badar, 2011).
Plant tissue
analysis has been used to reveal the deficiency, adequacy or excessiveness
status of various nutrient elements in a soil-plant system. Unfortunately, a
serious limitation to its utility is the dynamic nature of nutrient
concentration in plants in relation to their availability in the soil, either
in the native state or through their addition to the soil in fertilizer form.
Nevertheless, the important part that analyses of soil and plants play in
decision-making regarding fertilizer type and rates of application cannot be
ignored.
Samples for
plant tissue analysis were taken from each of the plots, dissected into grains,
cobs and stover; and oven-dried at 70oC to constant weight before grinding with
a Wiley mill to pass through a 0.5mm sieve. The samples were chemically
analysed to determine their contents of nitrogen, phosphorus, potassium,
calcium, magnesium and sodium. Concentrations of all nutrients were expressed
on a dry weight basis and the nutrient uptake and accumulation were calculated
using the respective plant dry weights (Ogunlela, 2008).
Pada praktikum ini bertujuan untuk dapat mempelajari dan mengetahui
system jaringan pada batang dan akar
dikotil dan monokotil. Kemudian juga dapat mempelajari tipe berkas
pengangkut pada batang dan akar dikotil
dan monokotil serta dapat mempelajari tipe stele pada batang dan akar dikotil
dan monokotil.
Masalah yang ada pada Struktur
Anatomi Batang Dikotil adalah Bagaimana sistem jaringan pada
batang dikotil? Bagaimana tipe berkas pengangkut
pada batang dikotil? Kemudian
masalah pada Struktur Anatomi Batang Monokotil adalah Bagaimana sistem jaringan pada batang
monokotil? Bagaimana sistem berkas pengangkut
pada batang monokotil? Dan pada Struktur Anatomi Akar Monokotil dan
Dikotil adalah Bagaimana sistem jaringan pada akar
tumbuhan? Bagaimana tipe berkas pengangkut
pada akar tumbuhan? Kemudian
pada Pengamatan preparat segardi dapat masalah Bagaimana
sistem jaringan pada akar tumbuhan? Bagaimana
tipe berkas pengangkut pada akar tumbuhan.
METODOLOGI
Pada praktikum
Anatomi dan fisoilogi tumbuhan inidi lakukan pada tanggal 13 maret 2014 di laboratorium Biologi FKIP Untan pada pukul 13.00
sampai 15.00 WIB.
Alat dan Bahan pada praktikum
ini menggunakan alat antara lain mikroskop, pinset, silet, kaca objek dan kaca
penutup. Dan menggunakan bahan yaitu air, preparat awetan batang monokotil (Zea mays), preparat awetan batang
dikotil (Arachis hypogea), preparat
awetan akar monokotil (Zea mays), dan
preparat awetan akar dikotil ( helianthus). Sedangkan tumbuhan yang digunakan sebagai preparat segar batang Cyperus rotundus
(monokotil) dan batang Arthocarpus
integra (dikotil)
Pada langkah kerja Struktur Anatomi Batang Dikotil Pada praktikum jaringan akar dan batang dikotil dan
monokotil ini praktikan Mula-mula
melakukan pemeriksaan
terhadap preparat awetan dan preparat segar dengan perbesaran lemah untuk mengamati susunan jaringan yang
terdapat pada batang. Kemudikan setelah di
lakukan pengamatan dengan perbesaran lemah praktikan melakukan pengamatan
awetan dengan memperbesar satu
sektor dan irisan tersebut dengan pembesaran
kuat.Kemudian setelah di amati praktikan menggambar preparat yang di amati dan
beri keterangan. Kemudian setelah di
gambar praktikan juga harus menyebutkan tipe berkas pengangkut dan tipe stele maasing-masing tanaman.
Sedangkan langkah
kerja pada Struktur Anatomi Batang Monokotil Pada praktikum jaringan akar dan
batang dikotil dan monokotil ini praktikan Mula-mula melakukan pemeriksaan terhadap preparat awetan dan
preparat segar dengan perbesaran lemah
untuk mengamati susunan jaringan yang terdapat pada batang. Kemudikan setelah di lakukan
pengamatan dengan perbesaran lemah praktikan melakukan pengamatan preparat
awetan dan segar dengan memperbesar satu
sektor dan irisan tersebut dengan pembesaran
kuat.Kemudian setelah di amati praktikan menggambar preparat yang di amati dan
beri keterangan. Kemudian setelah di
gambar praktikan juga harus member
keterangan tipe berkas pengangkut dan tipe stele maasing-masing tanaman.
Dan langkah kerja pada
Struktur
Anatomi Akar Monokotil dan Dikotil Pada praktikum jaringan akar dan batang dikotil dan monokotil ini
praktikan Mula-mula melakukan pemeriksaan terhadap preparat dengan perbesaran
lemah untuk mengamati susunan jaringan terdapat pada akar dikotil dan
monokotil. Kemudian setelah dilakukan pengamatan dengan perbesaran lemah
praktikan melakukan pengamatan awetan akar berdasarkan satu sektor dari irisan
tersebut dengan pembesaran kuat Kumudian
setelah di gambar praktikan juga harus dan harus memberi keterangan dan
di sebutkan tipe berkas pengangkut dan tipe stele masing-masing tanaman.
HASIL DAN PEMBAHASAN
|
Preparat : Zea mays
Perbesaran : 10 X 25
|
Preparat : Arachis hypogea
Perbesaran : 10X 25
|
|
![]() |
![]() |
|
|
Keterangan :
1.
Epidermis
2.
Floem
3.
Xilem
4.
Korteks
5.
Empulur
|
Keterangan
:
1. Epidermis
2. Korteks
3. endodermis
|
|
|
Tipe :
pembuluh kolateral tertutup
|
Tipe
: pembuluh kolateral tertutup
|
|
|
Preparat : Zea mays
Perbesaran : 10X 25
|
Preparat : Helianthus
Perbesaran : 10 X
25
|
|
![]() |
![]() |
|
|
Keterangan :
1.
Epidermis
2.
Korteks
3.
Endodermis
4.
Xilem
5.
Floem
6.
Empulur
7.
Stele
|
Keterangan :
1. Epidermis
2. Endodermis
3. Floem
4. Xilem
5. Korteks
|
|
|
Tipe
: pembuluh kolateral tertutup
|
Tipe
: pembuluh kolateral tertutup
|
|
|
Preparat : Batang Cyperus sp.
Perbesaran : 10 X 25
|
Preparat :
Arthocarpus integra
Perbesaran : 10X 25
|
|
![]() |
![]() |
|
|
Keterangan :
1.
Epidermis
2.
Endodermis
3.
Floem
4.
Xilem
5.
Empulur
|
Keterangan
:
1. Epidermis
2. Korteks
3. Endodermis
4. Xilem
5. Empulur
6. Floem
7. Kambium
|
|
|
Tipe
: pembuluh kolateral tertutup
|
Tipe
: pembuluh kolateral terbuka
|
|
Pada praktikum
jaringan pada akar dan batang dikotil dan monokotil ini bertujuan
untuk mengetahui sistem jaringan, tipe berkas pengangkut maupun tipe stele dari
tumbuhan dikotil maupun monokotil. Praktikum ini menggunakan preparat awetan
akar dan batang Zea mays untuk
monokotil dan awetan akar dan batang Arachis
hypogea untuk tumbuhan dikotilnya. Sedangkan untuk pengamatan preparat
segarnya kelompok kami menggunakan batang Cyperus
rotundus untuk perwakilan tumbuhan monokotil
sedangkan untuk tumbuhan dikotilnya menggunakan akar Arthocarpus integra dan pada pengamatan akar ini kami
menggunakan Zea mays dan helianthus.
Struktur
batang lebih kompleks dibandingkan dengan akar. Batang ada yang tumbuh di atas
tanah dan di bawah tanah. Batang yang tumbuh di dalam tanah berfungsi untuk
menyimpan cadangan makanan, misalnya pada tanaman jahe. Batang tumbuhan
tersusun dari tiga sistem jaringan, yaitu:
a. epidermis
b. korteks
c. Endodermis (Badar, 2011).
Epidermis
adalah sistem sel-sel yang bervariasi struktur dan fungsinya, yang menutupi
tubuh tumbuhan. Struktur yang demikian tersebut dapat dihubungkan dengan
peranan jaringan tersebut sebagai lapisan yang berhubungan dengan lingkungan
luar. Adanya bahan lemak, kutin dan kutikula dapat membatasi penguapan, pada
dinding terluar menjadikannnya kompak dan keras, sehingga dapat dianggap
sebagai penyokong mekanis (Haryanti, 2010).
Pada pengamatan preparat batang Zea mays dengan perbesaran 10 X25 terlihat adanya epidermis, korteks, dan berkas pengangkut.
Begitu pula pada pengamatan preparat batang Arachis
hypogea terlihat bagian yang sama pula pada perbesaran yang sama yaitu
epidermis, korteks, dan berkas pengangkut.
Pada
pengamatan struktur akar monokotil dan dikotil, pengamatan akar monokotil
menggunakan preparat Zea mays,
berdasarkan pengamatan jaringan pada akarnya memiliki berkas pembuluh xylem
yang besar dan teratur, sedangkan xylem yang kecil berada diluarnya dan
berselingan dengan floem.meskipun pada pengamatan agak susah membedakan xylem
kecil dengan floem.bagian penyusun akar monokotil yang terlihat adalah 1.
Epidermis, 2. Korteks, 3. Endodermis, 4. Xylem, 5. Floem. Merupakan tipe ikatan
pembuluh bertipe koleteral terbuka.Sedangkan pada akar dikotil tampak xylem
dikelilingi oleh floem.bagian penyusun akar dikotil adalah 1. Epidermis, 2. Korteks, 3. Floem, 4. Xylem dan merupakan tipe ikatan
pembuluh bertipe koleteral tertutup. tipe ikatan pembuluh pada akar berkebalikan
dengan tipe ikatan pembuluh pada batang (Hermanto, 2011).
Hal tersebut kurang sesuai dengan
literatur yang diperoleh dimana seharusnya terdapat beberapa bagian penyusun
yang berbeda antara sistem jaringan pada monokotil dan dikotil. Kekurangan hasil
pengamatan ini dapat terjadi dikarenakan kelalaian praktikan maupun karena
keterbatasan media seperti terbatasnya perbesaran pada mikroskop sehingga
pengamatan yang diperoleh kurang atau bahkan sangat tidak mendetail.
Dan jika melihat gambar dari hasil pengamatan
yang dilakukan pada batang Zea mays
terlihat susunan berkas pengangkut yang tersebar. Sedangkan susunan berkas
pengangkut yang ada pada batang Arachis
hypogea sudah lebih teratur dan
tersusun. Adapun tipe ikatan pembuluh pada batang dikotil yaitu tipe kolateral
terbuka, artinya diantara xylem dan floem tedapat kambium yang berfungsi
menjadi penghubung keduanya. Sedangkan tipe pembuluh pada batang monokotil
yaitu tipe kolateral tertutup karena tidak adanya kambium sistem jaringannya.
Pada pengamatan akar monokotil
dengan menggunakan akar dari Zea mays
maka dapat dilihat bagian epidermis, xylem, floem, dan korteks. Begitu pula
pada pengamatan akar dikotil menggunakan akar Helianthus juga dapat dilihat bagian
epidermis, berkas pengangkut, dan korteksnya. Jadi dari pengamatan tersebut belum dapat dibedakan
dengan jelas penyusun sistem jaringan yang membedakan antara dikotil dan
monokotil. Hal ini mungkin dikarenakan kelalaian praktikan dalam mengamati
preparat yang ada.
KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yang dilakukan
diketahui adanya perbedaan sistem jaringan penyusun pada batang dan akar
tumbuhan monokotil dan dikotil. Pada tumbuhan dikotil menggunakan Arachis hypogea dan Helianthus untuk
preparat awetannya sedangkan untuk preparat awetan monokotil menggunakan Zea mays. Untuk preparat segar pada
tumbuhan dikotil menggunakan Arthocarpus
integra sedangkan tumbuhan dikotil menggunakan Zea mays. Berkas pengangkut pada batang monokotil tersebar
sedangkan dikotil tersusun rapi. Berbeda dengan berkas pengangkut pada akar
monokotil maupun dikotil dimana keduanya sama-sama tersusun secara teratur. Dan
tipe pembuluh pada batang monokotil yaitu tipe kolateral tertutup yaitu tidak
memiliki kambium sedangkan pada tumbuhan dikotil memiliki kambium yang
menghubungkan antara xylem dan floem sehingga tipe berkas pengangkutnya
merupakan tipe kolateral terbuka.
DAFTAR PUSTAKA
Angga. 2009. Perbedaan
Dikotil dan Monokotil. http://anggachip.blogspot.com. (Diakses 18 Maret
2014).
Badar. 2011. Struktur
dan Fungsi Jaringan. http://badartheking.blogspot.com. (Diakses
18 Maret 2014).
Campbell. 2003. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Hermanto. 2011. Pabrik
Biothanol dari Batang Jagung dengan Proses
Fermentasi. Jurnal Tugas Akhir Institut
Teknologi Sepuluh Nopember Vol. I: 7-10.
Kimball, J.W. 1998. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Listiana, Desti. 2010. Struktur
Anatomi Organ Tumbuhan. Jurnal Tugas Akhir Universitas Muhammadiyah Metro
Vol. 2: 2-9.
Ogunlela, V.B,
Ramalan and Falaki. 2008. Mineral
Composition of Dry Season Maize (Zea mays L.). World Journal of Agricultural
Sciences 4 (6): 775-780.
Soerodikoesoemo, Wibisono.1993.Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan.
Jakarta:Penerbit Universitas Terbuka,Depdikbud.
Steven.2008.Jaringan
pada Tumbuhan. http://stevenfilan.blog.friendster.com/2008/10/jaringan-pada-tumbuhan/ (diakses, Sabtu 31 Maret 2012).
LAMPIRAN
1.
Apakah perbedaan letak jaringan pada tumbuhan monokotil dan dikotil baik pada
akar maupun batang?
JAWAB : Perbedaan laetak jaringan pada tumbuhan
monokotil dan dikotil:
Batang
Dikotil:
berkas pembuluh tersusun dalam 1 lingkaran sehingga korteks terdapat di bagian
luar lingkaran dan empulur dibagian dalam lingkaran. Xilem tersusun dibagian
dalm lingkaran. Diantara floem dan xilem terdapat kambium.
Monokotil
: epidermisnya memiliki dinding sel yang tebal, terdapat jaringan skelerenkim
yang merupakan kulit batang, ikatan pembuluh menyebar pada seluruh batang,
ikatan pembuluh floem berdampingan dengan xylem, tidak twrdapat kambium.
Akar
Dikotil
: xilem mengumpul dibagian tengah silinder pusat, tersusun seperti bentuk
bintang.
Monokotil
: xilem dan floem letaknya berselang-seling.
2.
Bagaimana air masuk ke dalam xilem?
JAWAB : Air
masuk ke xylem, melalui jaringan epidermis akar, kemudian bergerak diantara
jaringan korteks, kemudian air melewati jaringan endodermis untuk memasuki
stele dan akhirnya masuk ke xylem.
3.
Jelaskan bagaimana air masuk ke dalam xilem melalui beberapa jaringan akar!
JAWAB : Air
masuk ke jaringan pada rambut akar kemudian masuk ke jaringan korteks yang
berlapis-lapis kemudian menuju kejaringan endodermis kemudian menuju kejaringan
perisikel dan akhirnya ke berkas pembuluh kayu atau xylem.
4.
Bagaiman hasil pengamatan pada preparat segar dengan slide awetan?
JAWAB : Pada
preparat segar dan slide awetannya pada tumbuhan monokotil terlihat letak
jaringan pengangkutnya yang tidak teratur dan tersebar serta untuk tumbuhan
dikotil terlihat letak jaringan pengangkutan yang teratur dalam lingkaran.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar