LAPORAN PRAKTIKUM
ANATOMI DAN FISIOLOGI TUMBUHAN
“JARINGAN DAUN
MONOKOTIL DAN DIKOTIL”

Disusun Oleh:
|
Nama
|
Nurul Andarwatingrum
|
|
Nim
|
F05112060
|
|
Kelas
|
Reg.A Kelas.B
|
|
Kelompok
|
3
|
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2014
ABSTRAK
Terdapat tiga jaringan utama pada daun
monokotil maupun dikotil yaitu jaringan epidermis terdiri dari epidermis
adaxial dan epidermis abaxial, jaringan mesofil terdiri dari palisade mesofil
dan spongy mesofil serta jaringan pembuluh terdiri dari xylem dan floem. Selain
itu tiap tipe daun dilengkapi dengan stomata. Walau memiliki sistem jaringan
penyusun yang sama akan tetapi posisi dari berbagai jaringan maupun struktur
anatomi masing-masing daun tersebut berbeda. Untuk mengetahui letak perbedaan
tersebut dilakukanlah pengamatan terhadap struktur anatomi dari preparat awetan
daun Zea mays dan daun Ficus sp. serta pengamatan preparat segar daun
Eugenia aquea dan daun Caladium sp. Pada hasil pengamatan dapat
dilihat bahwa daun yang tergolong kedalam tipe daun monokotil yaitu daun Zea mays dan daun Caladium sp.karena memiliki jaringan pembuluh
yang jumlahnya banyak dan tersusun berjajar dengan jarak yang berdekatan selain
itu pertulangan daunnya sejajar. Sedangkan daun Ficus sp.
dan Eugenia aquea daun termasuk kedalam tipe daun dikotil karena
jumlah jaringan pembuluhnya lebih
sedikit dan jarang serta pertulangan daunnya menyirip.
Kata kunci : Jaringan, daun monokotil, daun
dikotil
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Daun merupakan organ tumbuhan yang memiliki fungsi yang
sangat penting, salah satunya adalah sebagai tempat fotosintesis. Dibandingkan
dengan organ tumbuhan lainnya, daun memiliki fungsi serta struktur morfologi
dan anatomi yang lebih beragam. Oleh sebab itulah para ahli kemudian membagi
daun berdasarkan fungsi serta struktur morfologi dan anatomi yang dimilikinya
kedalam dua kelompok besar yaitu daun monokotil dan dikotil.
Pada daun monokotil dan dikotil masing-masing memiliki ciri
dan jaringan khusus yang menjadi keistimewaan dari masing-masing kelompok
tumbuhan tersebut. Dan pada praktikum kali ini khusus untuk melihat perbedaan
anatomi dari daun monokotil dan dikotil selain dari ciri morfologi yang sudah
lebih sering dibahas. Diharapkan setelah melakukan praktikum ini maka praktikan
dapat menentukan letak perbedaan antara daun monokotil dan daun dikotil bukan
hanya berdasarkan struktur morfologinya melainkan juga berdasarkan struktur
anatominya serta dapat melihat bagaimana perbedaan sistem jaringan yang
menyusun daun monokotil dan dikotil tersebut.
B.
Dasar Teori
Dengan sekitar 275.000 spesies yang telah diketahui, sejauh ini
angiosperma merupakan kelompok tumbuhan yang paling beraneka ragam dan paling
luas. Para ahli membagi angiosperma menjadi dua kelas : monokotil, dinamai
demikian karena kotiledonnya (keping atau daun biji) hanya ada satu dan
dikotil, yang memiliki dua kotiledon .
Pada
tumbuhan dikotil, daun terdiri atas tangkai (petiola) dan helai daun (lamina),
sedangkan daun monokotil tidak bertangkai, langsung melekat pada batang.
Jaringan penyusun daun meliputi epidermis, mesofil (parenkim), dan berkas
pembuluh (Campbell, 2003).
Epidermis terdapat dipermukaan atas dan dipermukaan bawah
daun. Umumnya terdiri dari selapis sel, seperti pada daun Ficus dan Piper (sirih).
Sel-selnya berdinding tebal dan pada bagian yang menghadap ke luar dilapisi
oleh kutikula untuk membatasi penguapan air yang terlalu besar, kadang-kadang
pada daun juga dijumpai lapisan lilin atau rambut. Pada epidermis terdapat stomata (mulut daun),
yaitu celah yang dibatasi oleh sel penutup. Lapisan epidermis atas berfungsi
melindungi bagian dibawahnya. Stomata berfungsi sebagai tempat keluar masuknya
udara dan dengan menghubungkan ruang-ruang antar sel di dalam jaringan parenkim dengan atmosfer. Pada tumbuhan
darat, stomata terletak dipermukaan bawah daun, sedangkan pada tumbuhan air
terdapat di atas permukaan daun (Lakitan,
1996) .
Jaringan epidermis atas berbeda dengan epidermis bawah.
Permukaan atas daun disebut permukaan
adaksial dan permukaan bawah disebut permukaan abaksial.
Mesofil
daun yang terdapat diantara epidermis atas dan bawah dibedakan menjadi dua
macam, yaitu parenkim palisade yang terdiri atas sel yang panjang dan tidak
mempunyai ruang antarsel dan parenkim spons yang terdiri atas sel yang
berbentuk tidak teratur dengan ruang antar sel yang besar. Parenkim palisade
lebih banyak mengandung kloroplas.
Bentuk
parenkim spons bermacam-macam. Kekhususannya adalah adanya lobus (rongga) yang
terdapat antara sel satu dan lainnya. Membedakan antara sel paenkim palisade
dengan parenkim spons tidak selalu mudah, khususnya apabila parenkim palisade
terdiri atas beberapa lapisan. Apabila palisade terdiri atas beberapa lapisan,
biasanya lapisan paling dalam sangat mirip dengan parenkim spons yang ada di
dekatnya (Mulyani, 2006).
Pada
tumbuhan monokotil tidak terdapat jaringan parenkim palisade, hanya terdapat
jaringan spons saja. Proses fotosintesis terjadi di semua sel penyusun jaringan
spons yang berbentuk membulat. Pada jaringan ini terdapat ruang antar sel sama
halnya dengan tumbuhan dikotil, jaringan spons pada tumbuhan monokotil di
dalamnya terdapat pembuluh pengangkut. Ciri khas jaringan spons yaitu adanya
lekukan-lekukan yang menjadi penghubung antar sel (Syarif, 2009).
Persiapan
stomata dengan metode replikasi. Parameter yang jumlah dan distribusi daun
stomata, lebih jauh lagi klasifikasi data dalam catagorizing beberapa tidak
terbatas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa jumlah kategori
stomata adalah mencapai 24%, cukup 20%, jauh 19%, 14% dan verymuch 23% tidak
membatasi kategori. Penyebaran distribusi stomata yang mencapai 68% (melati air
axcept) dan stomata paralel mencapai 32% (Haryanti,2010).
Jaringan pengangkutan pada daun membentuk suatu system
pencabangan seperti jala yang kompleks, disebut tulang daun. Tulang daun
terletak diantara jaringan tiang dan jaringan bunga karang. Pada sayatan
melintang tulang daun merupakan berkas pengangkut yang tersusun dari xylem dan
floem (Starscientist,2009).
Jaringan pembuluh suatu daun sambung menyambung dengan xilem
dan floem batang. Jejak daun, yang bercabang dari berkas vaskuler dalam batang,
menembus melalui tangkai daun ke daun. Didalam daun, tulang daun akan membagi
diri secara berulang-ulang dan bercabang diseluruh mesofil. Ini menyebabkan
xilem dan floem berhubungan sangat dekat dengan jaringan fotosintetik, yang
dapat menyebabkan air dan mineral dari xilem dan mengisi gula dan produk
organik lainnya kedalam floem untuk dikirim kebagian lain tumbuhan.
Infrastruktur pembuluh juga berfungsi sebagai kerangka yang memperkuat bentuk
daun tersebut (Campbell, 2003).
Pada kebanyakan daun dikotil, parenkim berkas pengangkut
memperluas ke epidermis pada satu atau kedua sisi daun. Sel parenkim yang
mencapai epidermis ini disebut perluasan berkas pengangkut, yang berfungsi
dalam pengangkutan pada daun. Pada beberapa tumbuhan, perluasan berkas
pengangkut mengiringi tulang daun hampir disepanjang daun, sedangkan pada
tumbuhan yang lain tidak terdapat perluasan berkas pengangkut.
Berkas
pengangkut juga terdapat dalam daun monokotil, khususnya rumput-rumputan yang
dibedakan menjadi dua tipe, yaitu yang mempunyai 1 (satu) atau 2 (dua) lapisan.
Lapisan berkas pengangkut di bagian luar terdiri atas sel parenkim dengan
dinding tipis. Sel selubung berisi kloroplas sehingga mengandung tepung yang
disebut selubung tepung (Mulyani, 2006).
Tumbuhan dikotil dan monokotil
masing-masing memiliki perbedaan yang dapat dilihat dari perbedaan daun dan
juga batang tumbuhan tersebut. Perbedaan daun dikotil dan monokotil dapat
dibedakan menjadi perbedaan secara anatomi serta struktur morfologi, nah disini
akan kita bahas tentang ketidaksamaan berdasarkan morfologinya. Pada setiap
jenis tumbuhan memiliki struktur mofologi daun yang tidak sama, oleh karena itu
perbedaan tersebut dapat digunakan sebagai klasifikasi pada setiap jenis
tumbuhan. Mari kita lihat selengkapnya pada uraian berikut:
Bentuk tulang daun pada tumbuhan dikotil adalah
menyirip, ssebagai contoh dapat dilihat pada tanaman mangga, jambu, rambutan,
dan sebagainya. Yang kedua, tulang daun yang menjari pada tumbuhan dikotil,
contohnya dapat dilihat pada tanaman pepaya, kapas, dan ketela pohon.
Pada tumbuhan monokotil, tulang daun berbentuk
melengkung. Pada jenis tumbuhan ini bentuk tulang daunnya membentuk garis
lengkung, misalnya pada tumbuhan genjer dan sirih.Tulang daun yang sejajar pada
tumbuhan monokotil, tulang daun membentuk garis-garis sejajar yang menyatu pada
ujungnya. Contoh pada tanaman padi dan tebu.
Tanaman berbunga dengan biji
tertutup dalam ovarium atau buah kemajuan evolusi terbaru dan terbesar dalam
kerajaan tumbuhan. Tanaman ini disebut angiosperma dan telah ada selama sekitar
125 juta tahun. Mereka mendominasi flora tanaman yang lebih tinggi di bumi saat
ini. Angiosperma dibagi menjadi dua kelompok, monokotil dan dikotil, berdasarkan
struktur tanaman. Monokotil adalah bentuk singkat dari monokotil berarti satu
daun biji. Ini adalah referensi ke daun tunggal yang muncul saat monokotil
berkecambah. Monokotil adalah lebih kecil dari dua kelompok, memiliki sekitar
60.000 spesies. Ini termasuk rumput, bunga lili, iris, anggrek, palem, aroids,
sedges dan banyak gulma kolam. Struktur monokotil memiliki kesamaan termasuk
vena paralel, ikatan pembuluh tersebar, tidak adanya kayu pertumbuhan sekunder
dan bagian bunga dalam kelipatan tiga. Para dikotil terdiri sekitar 190.000
spesies yang mencakup hampir semua akrab pohon non-konifera dan semak-semak dan
hampir semua bumbu tahunan termasuk rumput. Dikotil juga merupakan bentuk
singkat berasal dari dicotyledon kata mengacu pada daun dua benih hadir setelah
perkecambahan. Vena dikotil biasanya netlike, ada cincin vaskular tunggal terus
menerus, woody pertumbuhan sekunder hadir di pohon dan semak-semak dan bagian
bunga terjadi dalam kelipatan 4s atau 5s. ( Perry, 1991 ) .
Di hutan hujan tropis dataran rendah (TLRF) daun monokotil berbeda dari
dikotil (eudicots dan magnoliids) dalam dua cara yang mungkin untuk mengurangi
kerugian herbivora. Pada umumnya mereka lebih keras, dan mayoritas dari mereka
memiliki daun erat dilipat atau digulung sampai tahap akhir pembangunan. Dominy
et al. (2008) ditemukan dalam studi daun dewasa tersebar di tiga wilayah hutan
hujan yang ketangguhan (baik kekuatan pukulan atau ketangguhan retak) lebih
besar pada monokotil. Para penulis yang sama menunjukkan untuk hutan hujan Australia
bahwa perbedaan dalam kekuatan pukulan antara monokotil dan dikotil relatif
lebih besar untuk daun dewasa (dengan sekitar 30% lahan menghasilkan rata-rata)
dibandingkan daun sepenuhnya diperluas dan sepenuhnya tangguh. Studi kritis
pada ketangguhan patah daun dikotil telah menunjukkan bahwa determinan utama
umumnya tingkat perkembangan serat sekitar ikatan pembuluh (Lucas et al., 1995,
2000), meskipun jaringan lain mungkin penting pada sebagian kecil spesies (
Baca et al., 2000).
Di antara monokotil di TLRF besar ketangguhan adalah
karakteristik tidak hanya tanaman berdaun kaku, seperti banyak telapak tangan,
tetapi juga monokotil dengan daun yang kaya air yang siap menggulung bawah
kondisi pengeringan, seperti banyak jahe. Untuk dikotil di TLRF studi klasik
Coley (1983) menemukan bahwa ketangguhan yang lebih besar (kekuatan pukulan)
berkorelasi sangat negatif dengan tingkat kehilangan luas daun, dan beberapa
penulis kemudian telah menemukan korelasi yang sama, meskipun beberapa yang
lain tidak menemukan korelasi ( ditinjau oleh Dominy et al., 2008). Meskipun
temuan negatif beberapa penulis baru-baru ini, kita berhipotesis bahwa di TLRF
monokotil akan ditemukan menderita, rata-rata, kerugian kurang luas luas daun
dibandingkan dikotil. ( Peter, 2008 ) .
Daun tumbuhan tersusun atas
epidermis yang berkutikula dan terdapat stomata atau trikoma. Sistem jaringan
dasar pada daun monokotil dan dikotil dapat dibedakan. Pada tumbuhan dikotil
sistem jaringan dasar (mesofil) dapat dibedakan atas jaringan pagar dan bunga
karang, tidak demikian halnya pada monokotil khususnya famili Graminae. Sistem
berkas pembuluh terdiri atas xilem dan floem yang terdapat pada tulang daun (Zaenal, arif. 2011 )
Tujuan
Tujuan praktikum Jaringan
pada Daun Monokotil dan Dikotil yaitu mempelajari sistem dan jenis-jenis
jaringan daun, kemudian mempelajari tipe daun monokotil dan dikotil,
serta posisi dari berbagai jaringan daun. Selain itu juga membandingkan
struktur anatomi daun monokotil dan dikotil.
METODOLOGI
1. Waktu dan Tempat
Pada praktikum Anatomi dan fisoilogi tumbuhan
ini dengan acara jaringan pada daun monokotil dan dikotil yang di lakukan pada
tanggal 20 maret 2014 di laboratorium Biologi FKIP Untan pada pukul 13.00
sampai 15.00 WIB.
2.
Alat dan Bahan
Alat dan Bahan pada praktikum ini menggunakan alat antara
lain mikroskop, pinset, silet, pipet tetes, kaca objek dan kaca penutup.
Sementara bahannya menggunakan air,
preparat awetan daun monokotil (Zea mays)
dan preparat awetan daun dikotil (Ficus sp.). Preparat segar menggunakan daun Caladium sp. untuk tumbuhan monokotil dan
daun Eugenia
aquea untuk
tumbuhan dikotil.
3.
Cara Kerja
a. Preparat awetan
Mula-mula memeriksa dengan pembesaran lemah untuk mengamati
susunan jaringan yang terdapat pada daun. Kemudian membesarkan satu sektor dari
irisan tersebut dengan pembesaran kuat. Setelah itu menggambar hasil pengamatan
dan memberi keterangan pada gambar tersebut. Selanjutnya menuliskan tipe dari
masing-masing daun beserta ciri-cirinya.
b. Preparat segar
Perwakilan kelompok mencari tanaman monokotil dan dikotil
yang ada disekitar kampus. Kemudian mengambil bagian daun tanaman tersebut dan
selanjutnya menyayat tipis daun segar tersebut dengan menggunakan silet.
Kemudian mengamati preparat daun segar tersebut dibawah mikroskop untuk melihat
struktur anatominya seperti pada preparat awetan. Lalu menggambar hasil
pengamatan tersebut dengan pembesaran yang ada serta memberi keterangan pada
bagian-bagiannya.
1. HASIL
PENGAMATAN
|
GAMBAR
JARINGAN DAUN MONOKOTIL DAN DIKOTIL
|
|
|
DAUN MONOKOTIL
|
DAUN DIKOTIL
|
|
Preparat : Segar Caladium sp.
Besaran : 10
X 10
|
Preparat : Segar Eugenia
aquea
Besaran : 10
X 10
|
![]() |
![]() |
|
Keterangan :
1. Epidermis
adaxial
2. Epidermis
abaxial
3. Jaringan
palisade
4. Xilem
5. Floem
6. Mesofil
7. Jaringan
spons
|
Keterangan :
1. Jaringan
palisade
2. Epidermis
adaxial
3. Epidermis
abaxial
4. Jaringan
spons
5. mesofil
6. Xilem
7. Floem
|
|
Preparat : Awetan Zea mays
Besaran : 10
X 10
|
Preparat : Awetan Ficus sp.
Besaran : 10
X 10
|
![]() |
![]() |
|
Keterangan :
1. Epidermis
adaxial
2. Jaringan
mesofil
3. Jaringan
spongy
4. Floem
5. Xilem
|
Keterangan :
1. Epidermis
adaxial
2. Epidermis
abaxial
3. Jaringan
spons
4. Jaringan
palisade
5. Xilem
6. Floem
|
2. PEMBAHASAN
Dalam praktikum mengenai jaringan pada daun monokotil
dan dikotil, yang bertujuan untuk mempelajari sistem dan jenis-jenis jaringan
daun monokotil dan dikotil, mempelajari tipe daun monokotil dan dikotil,
mempelajari posisi dari berbagai jaringan daun monokotil dan dikotil, serta
membandingkan struktur anatomi daun monokotil dan dikotil. Pengamatan dilakukan
dengan menggunakan mikroskop.
Preparat yang telah disediakan yaitu preparat awetan
daun monokotil Zea mays (jagung)
, preparat daun awetan dikotil Ficus sp. dan preparat segar daun monokotil Caladium sp. (keladi ) dan pada preparat segar daun dikotil yaitu Eugenia aquea ( jambu air ). Hasil pengamatan yang dilakukan yaitu pada
preparat awetan Zea mays terdapat Epidermis adaxial, Jaringan mesofil, Jaringan spongy,
Floem dan Xilem. Kemudian pada preparat awetan Ficus sp.terdapat Epidermis adaxial, Epidermis abaxial, Jaringan spons,
Jaringan palisade, Xilem dan Floem. Sedangkan pada preparat segar Caladium sp. Terdapat Epidermis adaxial,
Epidermis abaxial, Jaringan palisade, Xilem, Floem, Mesofil dan Jaringan spons.
Dan sedangkan pada preparat Segar Eugenia
aquea Jaringan palisade, Epidermis adaxial, Epidermis
abaxial, Jaringan spons, mesofil, Xilem dan Floem.
Dari praktikum ini praktikan menggunakan perbesaran 10
X 10 dan dari pengamatan itu terlihat adanya
perbedaan antara tumbuhan dikotil dan monokotil tidak hanya terletak pada
perbedaan struktur anatomi akar dan batangnya, tetapi juga terletak pada
susunan anatomi daunnya.
Menurut (Fried, 2005 ) bahwa perbedaan yang
signifikan antara daun monokotil dan dikotil adalah dalam hal distribusi urat
daun atau vena (berkas fibrovaskular).
Perbandingan antara daun dikotil dengan daun monokotil
yaitu :
1. Pada daun
dikotil
Daun
ditutupi kedua permukaannya masing-masing oleh selapis epidermis. Dinding luar
epidermis biasanya tebal dan dilapisi substansi berlilin yang disebut kutin.
Permukaan luar epidermis seringkali dilapisi kutikula yang tebal ataupun tipis.
Lapisan kutikula ini dibentuk dari kutin. Adanya lapisan kutikula menyebabkan
air tidak dapat melewati epidermis dan transpirasi bisa berkurang, hanya
sejumlah kecil air yang menguap melalui transpirasi. Epidermis juga mencegah
masuknya patogen ke bagian dalam daun. Fungsi lain epidermis adalah melindungi
jaringan internal yang lunak dari kerusakan mekanis. Stomata paling banyak
ditemukan pada permukaan bawah daun dorsiventral. Stomata sedikit/jarang pada
permukaan atas dan bahkan tidak ada sama sekali.
Pada daun
yang terapung, stomata terdapat pada permukaan atas. Pada daun yang tenggelam,
tidak ada stoma. Masing-masing stoma dikelilingi dua sel penutup. Sel-sel
penutup merupakan sel hidup dan mengandung kloroplas. Sel penutup ini yang
mengatur membuka menutupnya stoma. Letak stomata tersebar pada permukaan daun.
Jaringan
daun di antara epidermis atas dan epidermis bawah terdiri atas jaringan
parenkim berdinding tipis disebut jaringan mesofil. Jaringan mesofil
memiliki porsi terbesar jaringan internal daun. Pada umumnya sel-sel mesofil
terdiri atas dua tipe, jaringan palisade dan jaringan spongy. Jaringan mesofil
selalu mengandung kloroplas. Jaringan palisade biasanya terdiri dari parenkim
yang silindris dan panjang serta posisinya tegak lurus dengan permukaan
epidermis.
Pada
penampang melintang, sel selnya nampak padat, dan dipisahkan satu sama lain
oleh ruang antar sel di antaranya. Jaringan palisade bisa selapis atau lebih.
Daun yang menerima sinar matahari secara langsung jaringan palisade lebih rapat
daripada yang teduh.
Jaringan
spongy tersusun longgar, tidak beraturan dengan ruang antar sel yang besar di
antara sel-selnya. Pada jaringan ini juga terdapat kloroplas, akan tetapi tidak
sebanyak pada jaringan palisade. Banyaknya rongga udara lebih memungkinkan
untuk pertukaran gas antara sel-sel spongy dengan udara luar.
Fungsi ibu
tulang daun dan vena lateral untuk menguatkan daun. Jaringan yang berfungsi
menguatkan pada daun adalah kolenkim, sklerenkim dan xilem. Pada bagian tengah
ibu tulang daun, di bawah epidermis biasanya terdapat sel-sel berdinding tebal
yang berfungsi untuk menguatkan daun yaitu jaringan kolenkim. Sklerenkim juga
menguatkan daun. Biasanya sklerenkim merupakan suatu berkas bersebelahan dengan
floem. Selain berfungsi untuk mengangkut air, trakea dan trakeid dengan
ketebalan dindingnya juga berperan dalam menguatkan daun.
2. Pada Daun
Monokotil
Daun
monokotil pada umumnya orientasinya tegak sehingga kedua permukaannya mendapat
sinar matahari. Struktur internal hampir sama pada kedua permukaan daun.
Stomata terdapat pada kedua sisi. Jaringan mesofil tidak mengalami diferensiasi
menjadi jaringan tiang dan jaringan spongy, tetapi terdiri atas sel-sel
parenkim dengan kloroplas dan ruang antar sel di antaranya.
Jadi,
menurut ( Campbell, 2003 ) yaitu daun
tumbuhan monokotil dan dikotil berbeda dalam susunan tulang daun utamanya.
Sebagian besar monokotil memiliki tulang daun utama parallel (sejajar) yang
menjalar sepanjang helai daun. Sebaliknya daun tumbuhan dikotil umumnya
memiliki banyak percabangan pada tulang daun utama.
KESIMPULAN
Daun merupakan organ yang
pertumbuhannya terbatas dan pada umumnya simetris dorsiventral. Pipihnya daun
berkaitan dengan fungsinya dalam fotosintesis, karena dengan bentuk daun
demikian maka luas daun yang terekspose sinar matahari bisa lebih luas.
Sebagian monokotil mempunyai susunan
daun unifasial. Kebanyakan tumbuhan dikotil herba, mesofilnya relative tidak
terdiferensiasi. Misalnya jaringan tiang tidak ada, atau kurang berkembang,
ruang interseluler besar, daun tipis, epidermis dengan kutikula tipis, dan
stomata menonjol. Pada tumbuhan dikotil, dibawah
epidermis terdapat sel-sel parenkim. Sel-sel parenkim tersebut membentuk
jaringan parenkim palisade dan jaringam spons. Pada tumbuhan monokotil tidak terdapat jaringan parenkim palisade, hanya
terdapat jaringan spons saja.
Daun
tumbuhan monokotil dan dikotil berbeda dalam susunan tulang daun utamanya.
Sebagian besar monokotil memiliki tulang daun utama parallel (sejajar) yang
menjalar sepanjang helai daun. Sebaliknya daun tumbuhan dikotil umumnya
memiliki banyak percabangan pada tulang daun utama.
DAFTAR
PUSTAKA
Campbell,
Neil A. 2003. Biologi. Jakarta:
Erlangga.
Haryanti,
2010. Jurnal Universitas D.I.Ponegoro. http://ejournal.
undip.ac.id/index.php/janafis/article/view/2600.( Diakses 25 Maret 2014).
Lakitan,
B. 1996. Fisiologi Pertumbuhan dan
Perkembangan Tanaman. Jakarta : Rajawali Pers.
Mulyani,
Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan.
Yogyakarta: Kanisius.
Starscientist.
2009. Struktur dan Fungsi Tubuh Tumbuhan. http://starscientist.wordpress.com. (Diakses
25 Maret 2014).
Perry. 1991. Monocots And Dicots. Journal of Arboriculture 4
(6): 775-780.
Peter. 2008. Monocot
Leaves are Eaten Less than Dicot Leaves in Tropical Lowland Rain Forests:
Correlations with Toughness and Leaf Presentation. Ann
Bot. 2008 June; 101(9): 1379–1389.
Syarif.
2009. Struktur dan Fungsi Jaringan
Tumbuhan. Bandung : Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan.
Syarfudin,
Boska. 2013. Perbedaan daun tumbuhan dikotil dan monokotil.
http://bozzkaf.blogspot.com/2013/05/perbedaan-daun-tumbuhan-dikotil-dan.html#ixzz2x5ijQQ94
( Diakses 25 Maret 2014)
Zaenal, Arif. 2011. http://awikzaenalarif.wordpress.com/2011/06/08/tumbuhan-monokotil-dan-dikotil/ (Diakses 25
maret 2014).




Tidak ada komentar:
Posting Komentar